Singaraja, koranbuleleng.com | Dunia politik Kabupaten Buleleng berduka. Salah satu tokoh politik paling berpengaruh dan disegani dari masa lalu, Ketut Kadjar, telah berpulang, karena usia yang telah senja. Nama Kadjar tercatat kuat dalam lembaran sejarah politik di Bali khususnya di Buleleng sebagai figur penentu arah politik lokal dan simbol oposisi keras terhadap kekuasaan. Kadjar, membentuk gerbong politik pembaruan pada masanya. Ketut Kadjar dikenal sebagai bagian dari kelompok politik legendaris yang dijuluki Trio Kokar. Bersama Made Koyan dan Nyoman Rama.
Semasa hidupnya, Kadjar dikenal sebagai politisi lapangan dengan basis massa yang solid. Pengaruhnya tidak lahir dari jabatan formal, melainkan dari kemampuan menggerakkan dukungan, membangun jaringan, serta keberanian bersuara lantang terhadap kebijakan pemerintah daerah. Ia menjadi salah satu figur yang kerap disebut dalam dinamika politik Buleleng pada masa perubahan pascareformasi, ketika ruang oposisi mulai terbuka dan perdebatan publik berlangsung tajam.
Pada era kepemimpinan Putu Bagiada, Ketut Kadjar bersamam Trio Kokar dikenal sebagai salah satu tokoh oposisi paling agresif. Kehadirannya kerap mewarnai perdebatan politik lokal, terutama dalam isu-isu yang dianggap menyangkut kepentingan masyarakat luas. Kritik yang disampaikannya dikenal lugas, keras, dan tanpa kompromi, sehingga membuat namanya disegani sekaligus diperhitungkan oleh berbagai kalangan.
Ia membangun kekuatan politik non-formal yang sangat berpengaruh. Julukan Trio Kokar berasal dari gabungan nama ketiganya — Koyan, Kadjar, dan Rama — yang dikenal solid, disiplin, serta berani mengambil posisi berseberangan dengan pemerintah daerah pada masanya. Tanpa memegang jabatan resmi, pengaruh trio ini mampu membentuk opini publik, menggalang dukungan masyarakat, hingga mempengaruhi peta politik lokal.
Dia pernah menjadi bagian dari pengurus PDI Perjuangan. Karena perbedaan pandangan politik, Kadjar keluar dari PDI Perjuangan.Dalam perjalanan politiknya, Ketut Kadjar juga berperan penting dalam menguatkan basis Partai Karya Peduli Bangsa. Partai Karya Peduli Bangsa saat itu masih tergolong partai baru, namun berhasil mencatat capaian signifikan di Buleleng. Melalui jaringan politik yang dibangun Kadjar dan rekan-rekannya, partai tersebut mampu mengantarkan enam kadernya duduk di DPRD Buleleng hingga membentuk satu fraksi sendiri usai Pemilu 2004. Capaian tersebut dinilai luar biasa pada masanya karena PKPB belum memiliki kekuatan besar secara nasional. Partai tersebut, baru berdiri pada September 2002.
Yang membuat Ketut Kadjar dikenang adalah kenyataan bahwa ia tidak pernah menjadi anggota DPRD, namun pengaruh politiknya kerap melampaui mereka yang memiliki jabatan formal. Ia dikenal dekat dengan masyarakat, mudah ditemui, serta aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan adat di lingkungan Singaraja dan sekitarnya. Di mata pendukungnya, ia merupakan figur yang mampu menjembatani aspirasi masyarakat dengan dinamika politik daerah.
Meski tidak pernah duduk sebagai anggota DPRD, pengaruh politik Ketut Kadjar terbukti melahirkan generasi penerus di parlemen daerah. Anak-anak dari tokoh Trio Kokar kemudian tercatat pernah menjadi anggota DPRD Buleleng, di antaranya Wayan Arta dari Desa Sidatapa, Gede Ton Hitler yang merupakan putra Ketut Kadjar, serta Gede Rasadana, putra Nyoman Rama dari Desa Bondalem. Kehadiran mereka di lembaga legislatif menunjukkan bahwa pengaruh politik Trio Kokar tidak hanya kuat pada zamannya, tetapi juga berlanjut pada generasi berikutnya.
Trio Kokar “junior” inilah yang kerap menentukan arah di dalam Gedung legislatif, kala itu. Sementara orangtua mereka “berakrobat” di luar Gedung. Koalisi Bapak-Anak yang bergerak dari luar dan di dalam gedung ini sukses membuat repot penguasa pada masa itu.
Maka dari itulah, dalam banyak peristiwa politik lokal, nama Kadjar sering disebut sebagai penentu arah dukungan atau “king maker”, sosok yang mampu mempengaruhi keputusan politik tanpa harus tampil sebagai pejabat publik.

Kepergiannya menandai berakhirnya satu generasi politisi lapangan yang mengandalkan kedekatan langsung dengan rakyat, bukan sekadar kekuatan struktur partai atau jabatan.
Kini sosok yang pernah menggetarkan panggung politik lokal itu telah tiada. Namun jejaknya sebagai tokoh oposisi legendaris dan penggerak kekuatan politik masyarakat akan tetap menjadi bagian dari sejarah politik Buleleng dan dikenang oleh mereka yang pernah menyaksikan dinamika keras politik daerah pada zamannya.
Jenasah Ketut Kadjar sudah melalui prosesi pengabenan di Setra adat Desa Adat Galiran, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Senin 23 Pebruari 2026.
Puluhan politisi terlihat melayat di rumah duka di Desa Baktiseraga. Kadjar bersama Tri Kokar tidak hanya melahirkan anak-anak biologis, tetapi juga banyak anak ideologis mereka dan sampai kini masih aktif berpolitik.

Salah satunya, Dewa Nyoman Sukrawan. Dia mengenang Kadjar sebagai guru politik. Pada masa itu, di PDI Perjuangan, Sukrawan baru memegang kendali sebagai Ketua PAC PDI Perjuangan Sawan sementara Ketut Kadjar duduk sebagai Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buleleng. Kadjar kala itu mendampingi Ketua DPC PDI Perjuangan Buleleng, almarhum Nyoman Sudarmawan Duniaji.
“Pak Kadjar ini sosok politisi yang garang namun sangat mengayomi, peduli dengan kader partai. Loyalitasnya kepada masyarakat sangat tinggi,” kenang Sukrawan.
Gaya berpolitik “Zigzag” dari Ketut Kadjar menjadi inspirasi bagi anak-anak ideologisnya. Sukrawan mengaku sudah mengenal baik Ketut Adjar sejak tahun 1994. Rumahnya saat ini di Desa Baktiseraga adalah markas bagi sebagian politisi hari ini yang pernah berguru kepada Kadjar. Dia mengaku, tidak pernah putus berkomunikasi dengan Anak-anak dari Trio Kokar. “Sampai detik ini, saya masih berkomunikasi dengan Trio Kokar junior,’ ungkapnya.
Saat pengabenan, anak-anak dari Trio Kokar memang hadir secara lengkap. Wayan Arta dan Gede Rasadana. Keakraban mereka masih sama seperti dulu. Bahkan, Mantan anggota DPRD Buleleng yang juga kader PDI Perjuangan, Gusti Artana asal Desa Baktiseraga juga hadir dan bercengkerama dengan Trio Kokar Junior.
Tokoh lain yang hadir pula saat prosesi pengabenan Ketut Kadjar adalah Antonius Kiabeni. Pentolan LSM Gema Nusantara ini juga menjadi salah satu anak ideologis dari Kadjar.
Anton mengaku belajar banyak dari Kadjar sebagai politisi berjantung “baja”. “Dia tokoh yang sangat kuat, tidak pernah takut, jantungnya baja itu,” terang Anton.
Anton mengenang Kadjar sebagai tipe pemimpin yang tidak bernafsu terhadap jabatan, tetapi pemimpin yang selalu paham kondisi di luar gedung. Dia disegani sehingga banyak masyarakat yang tergerak dan masuk dalam gerbongnya untuk mengkritisi pemerintah. Seorang pemimpin, kata Anton harus seperti almarhum Ketut Kadjar, dia seorang motivator dan mampu menggalang massa. (*)
Pewarta : I Putu Nova Anita Putra

