Singaraja, koranbuleleng.com | Pondok Literasi Sabih (PLS) di Desa Pedawa kembali menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Pada Sabtu 28 Maret 2026, komunitas literasi ini kedatangan sejumlah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha, bersama mahasiswa Universitas Iwate Jepang.
Kedatangan para mahasiswa dari dua universitas tersebut merupakan bagian dari Program Penguatan Literasi Budaya bagi anak-anak anggota PLS. Dalam kegiatan itu, para mahasiswa memperkenalkan budaya Jepang melalui dua aktivitas utama, yakni origami atau seni lipat kertas, serta pengenalan pakaian tradisional Jepang, yukata.
Lebih dari 20 anak anggota Komunitas PLS tampak antusias mengikuti kegiatan sejak awal. Anak-anak terlihat aktif mencoba, bertanya, hingga berlomba-lomba menyelesaikan bentuk lipatan origami sesuai arahan para pendamping.
Ketua PLS, I Wayan Sadyana, mengatakan kolaborasi ini bertujuan memperkuat pemahaman lintas budaya di kalangan anak-anak Desa Pedawa. Menurutnya, literasi budaya penting diberikan sejak dini agar anak-anak memiliki bekal cukup untuk bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas.
“Pemahaman lintas budaya penting diberikan kepada anak-anak agar mereka mempunyai cukup bekal literasi budaya untuk bergaul dengan masyarakat luas,” kata Sadyana.
Ia menjelaskan, kolaborasi dengan pihak luar bukanlah hal baru bagi PLS. Komunitas literasi ini secara aktif menggalang kerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan penguatan literasi budaya kepada anak-anak di Desa Pedawa.
Pada tahun-tahun sebelumnya, PLS tercatat telah beberapa kali menjalin kolaborasi lintas budaya dengan Universitas Toyo Jepang, Universitas Murdoch Australia, Universitas Ohkagakuen, serta sejumlah relawan dari Jepang.
Dalam sesi origami, antusiasme anak-anak terlihat dari banyaknya karya lipatan yang berhasil mereka buat. Anak-anak dilatih membentuk berbagai model origami dari kertas khusus, mulai dari bentuk sederhana hingga bentuk yang lebih menantang.
Tak kalah menarik, pengenalan yukata juga memberikan pengalaman baru bagi anak-anak. Mereka mendapat kesempatan mencoba mengenakan pakaian tradisional Jepang tersebut, sekaligus memahami makna budaya yang melekat pada busana itu.
Melalui kegiatan ini, PLS berharap kesadaran budaya pada diri anak-anak dapat tumbuh semakin kuat. Kesadaran tersebut diharapkan mampu membentuk daya saring yang baik dalam menghadapi berbagai pengaruh luar, sekaligus memperkokoh rasa bangga terhadap budaya sendiri.
“Melalui mengenal orang lain, seharusnya juga bisa mengenal diri,” demikian harapan yang mengemuka dari kegiatan lintas budaya tersebut. (*)
Pewarta : Kadek Yoga Sariada

