Mereka Me-Nyepi Dengan Bahagia di Panti Jompo

Singaraja | Ni Nengah Tendri, wanita tua yang berumur sekitar 65 tahun tampak dengan seksama menjahit baju kebayanya dengan tangan yang sudah sangat berkeriput dan jemarinya gemetar memegang jarum. Tendri, adalah orang tua yang sudah tinggal di Pantai Jompo Jara Mara Pati, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar. Tendri yang berasal dari Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu sudah menghuni panti ini selama 15 tahun.

Dia menjahit kebayanya yang beberapa sudutnya alami robek, supaya bisa digunakan pada saat prosesi penyepian nanti. Tendri berencana akan melaksanakan catur brata penyepian di Panti Jompo bersama sejumlah rekan-rekannya.

- Advertisement -

Selama 15 tahun, Dia selalau menjalankan aktifitas sosial bersama sejumlah rekan-rekannya. Mulai dari membuat kerajinan seperti sapu lidi, kain rajutan atau yang lainnya. Hasil-hasil kerajinan mereka dikumpulkan dan nantinya dijual untuk kebutuhan bekal hidup mereka.

Tendri mengatakan, selama 15 tahun tinggal di Panti Jara Mara Pati memang beberapa kali sudah pernah pulang ke Desa Kedis. Namun di desanya sebenarnya sudah tidak ada keluarganya yang sekandung. Dia mempunyai saudara di Kabupaten Tabanan dan lebih sering menjenguknya di Panti. “Wenten nike keluarga tyang ring Tabanan, Ragane sane negokin ttyang mriki (Ada satu keluarga saya tapi bekerja dan tnggal di Tabanan, kadang kalau hari raya Dia yang jenguk saya),” ujar Tendri.

Tendri kini akan melaksanakan catur brata penyepian di Panti seperti tahun-tahun sebelumnya bersama rekan-rekan panti lainnya.

Dia merasa, merayakan Hari Raya nyepi di Panti sudah menjadi kebiasaan, karena lingkungan di sekitarnya sudah dianggap keluarganya sendiri. “Kapah tyang mulih, sube uling mekelo tyang nyepi driki. Meh wenten sampung molas tibanan asane (saya jarang pulang, sejak dulu saya merayakan nyepi di sini),” terangnya. Tidak ada persiapan khusus yang Dia lakoni untuk merayakan Hari Raya Nyepi tahun caka 1938 tahun ini.

- Advertisement -

Hal yang sama juga akan dilkaukan oleh warga Panti Jompo lainnya. Mereka akan merayakan hari raya di Panti, namun beberapa warga juga ada yang pulang ke kampung halamannya.

Di Panti Jompo Jara Mara Pati, ada 63 penghuni dari berbagai asal. Namun kebanyakan, mereka berasal dari Kabupaten Buleleng. Lebih banyak, mereka yang tinggal di panti jompo karena sudah tidak memiliki keluarga dekat, namun untuk menghuni panti memang harus ada beberapa kerabatnya yang mempertanggungjawabkan.

Salah satu staff Di Panti Jompo Jara Mara Pati, Ketut Sutika mengungkapkan rata-rata umur para penghuni jompo di Panti Jompo Jara Mara Pati 60 tahun ke atas. “Persyaratannya memang harus berumur 60 tahun ke atas,’ ujarnya.

Kata Sutika, kehidupan para penghuni Jompo di Panti Jara Mara Pati ini sudah ditanggung oleh pemerintah, mereka tidak membayar apapun. Namun sering pula sejumlah donator menyumbangkan barang-barang yang bisa dimanfaatkan bagi para penghuni.

“Ya menjelang hari raya, Galungan, Nyepi biasanya memang ada beberapa donator yang datang ke sini untuk menyumbangkan sesuatu yang bisa digunakan oleh warga panti,” katanya.

Para penghuni panti ini mempunyai karakter yang sangat berbeda-beda. Untuk merawat mereka memang dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. “Tapi mungkin nanti saya seperti mereka juga ya, itu hikmahnya. Saya bisa belajar dari mereka juga,” kata Sutika.

Para penghuni jompo ini setiap hari tidak bisa berdiam diri. Seperti warga lainnya, Mereka selalu melakoni aktifitas apapun. “Namanya orangtua mungkin sudah menjadi karakternya juga, tidak mau diam. Ada saja yang dilakukan,” terang Sutika.

Dulu, pernah pihak pengelola panti mendatangkan sejumlah penyuluh untuk melatih para penghuni jompo beternak. Beberapa waktu, usaha peternakan berjalan dengan baik.

“Peternakan itu berjalan dengan baik, cuma saja kadang mereka tidak mau berhenti bekerja. Kadang-kadang jika hujan deraspun mereka harus membuat dan memberi pakan ternak sambil hujan-hujanan. Bahkan ada warga panti yang mencari hewan ternaknya yang keluar kandang dan mencarinya sampai kehujanan. Kondisi ini justru berbahaya buat kesehatan mereka, akhirnya usaha itu dihentikan saja,” cerita Sutika. |NP|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts