More

    Di Kayu Putih, Tradisi Nyakan Diwang Masih Lestari

    Tradisi Nyakan Diwang tetap dilaksanakan di desa Kayu Putih

    Singaraja, koranbuleleng.com | Tradisi Nyakan Diwang masih berjalan alami di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, saat Ngembak Gni, tiba, Senin 15 Maret 2021. Suasana ini menjadikan berbeda dalam menyambut tahun baru Saka 1943.

    Tradisi Nyakan Diwang, artinya memasak di luar rumah di pinggir jalan raya selama satu hari setelah Hari Nyepi atau Catur Brata Penyepian. Tradisi ini sudah berjalan sejak lama. Ada beberapa desa yang biasanya melaksanakan tradisi ini selain Desa Kayu Putih. Seperti Desa Munduk, Desa Banyuatis, Desa Gobleg dan Desa Gesing, Desa Umejero. Atau di wilayah bawah, seperti di Desa Banjar, Desa Dencarik di Kecamatan Banjar.

    Tradisi ini sudah ada dari turun temurun yang masih terpelihara dengan baik oleh masyarakat di tengah zaman yang semakin modern.

    Di desa-desa itu, generasi saat ini sudah menerima tradisinya. Masyarakat menerima begitu saja dan menganggap ini sebagai keunikan karena tidak semua desa di Bali memilikinya.

    Di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, warga sudah bersiap untuk memasak di luar mulai pukul 03.00 wita. Sebenarnya, waktu yang terlalu pagi untuk melakukan aktivitas memasak. Tetapi, momen inilah yang menjadi keseruan warga dan sangat ditunggu-tunggu setiap tahun. Anak-anak pun tak ingin melewatkannya. Mereka turut menikmati suasana yang diselingi canda gurau bersama orangtua. Ada pula yang berdiang, menghilangkan dingin dari udara pegunungan.

    Jenis masakan yang dibuat warga beragam. Ada sate, nasi goreng, dan sebagainya. Ada pula yang menanak nasi, dilanjutkan dengan merebus pisang maupun jajan Bali. Rasanya sangat mantap saat disantap ditemani dengan segelas kopi hitam.

    Kehadiran pandemi COVID-19 memunculkan suasana yang berbeda pada pelaksanaan tradisi di tahun ini.  Warga, Putu Dedi Lastika menuturkan saat ini terasa lebih sepi dari tahun sebelumnya. “Sekarang yang ‘nyakan diwang’ lebih banyak yang muda. Yang tua memilih untuk diam di rumah,” ungkapnya.

    Namun demikian, pria 36 tahun ini menyatakan hal tersebut tidak mengurangi kesan. “Kesan tetap senang bisa melaksanakan tradisi ini meski dalam situasi pandemi,” ucapnya.

    Warga lain, Putu Sosiawan mengatakan tradisi ini juga sekaligus dijadikan momen untuk silaturahmi dan menjaga kebersamaan, baik dengan keluarga maupun antarwarga. “Tentu ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu setiap tahun,” katanya.

    Ia mengharapkan pandemi COVID-19 segera berakhir, sehingga pelaksanaan tradisi ini dapat semakin semarak dan semakin berkesan. “Semoga Hari Raya Nyepi tahun depan sudah bebas dari pandemi,” pungkasnya. |K-SS|

    Berita Terpopuler

    Related articles