More

    Petani Sulbar Belajar Pengembangan Durian ke Tamblang

    Petani asal Sulawesi Barat melakukan studi banding pengembangan budidaya durian di Desa Tamblang |FOTO : Rika Mahardika|

    Singaraja, koranbuleleng.com| Kabupaten Buleleng sudah dikenal sebagai sentra penghasil buah berkualitas. Salah satunya durian. Kesuksesan pengembangan durian ini menarik perhatian para petani di Luar Daerah datang untuk belajar.

    Sejumlah petani dari Provinsi Sulawesi Barat datang secara khusus datang ke Buleleng untuk belajar pengembangan buah durian yang berkualitas. Salah satu yang menjadi lokasi kunjungan Kelompok Tani Tirta Giri Suci dan Ambara Fruits di Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan sebagai salah satu penghasil durian.

    Komoditas Buah Durian jenis kane dan montong asal Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng kini telah menembus pangsa pasar Eropa khususnya Belanda.

    Rombongan dipimpin Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan hortikultura dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat, Hermanto. Sementara di Buleleng, mereka diterima langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Made Sumiarta dan didampingi Kabid Hortikultura, Gede Subudi pada Selasa, 6 April 2021. Rombongan berkunjung langsung ke perkebunan durian milik I Made Jelada yang berlokasi di Banjar Dinas Tangkid, Desa Tamblang.

    Dalam kesempatan itu, I Made Jelada selaku pemilik Ambara fruit memaparkan jika durian Kane dan Montong hasil budi dayanya, sudah mampu menembus pasar Eropa sejak Februari 2021. Dijelaskan, pihaknya membudidayakan durian sejak tahun 1980 silam. Saat ini luas lahan yang dikelola Ambara Furits mencapai 1 hektar. Setiap satu hektar lahan mampu ditanami 300-350 pohon durian. Namun yang sudah mulai produktif mencapai 150 pohon.

    Sementara untuk lahan yang dikelola Kelompok Tani Tirta Giri Suci bersama 24 orang anggotanya mencapai 60 hektar. Dari jumlah itu 15 hektar ditanami durian dan seluas 45 hektar ditanami mangga.

    Dalam sekali panen, setiap hektar lahan mampu menghasilkan 4 hingga 5 ton buah durian. Dengan asumsi setiap pohon yang sudah berusia 30 tahun mampu menghasilkan 5 kwintal buah durian. Sedangkan pohon yang baru berusia 4 sampai dengan 5 tahun sudah mulai berbuah 2 hingga 3 biji. Setiap buah durian mampu memiliki bobot maksimal seberat 5 kilogram.

    “Dari berbunga sampai bisa dipetik perlu waktu 100 hari. Harganya pun bervariasi. Setiap kilogram buah durian di pohon bisa dihargai Rp30 ribu hingga Rp55 ribu. Sedangkan untuk durian kelas ekspor bisa dihargai Rp38 ribu per kilogramnya. Dan kami ekspornya sejak Februari 2021 lalu dengan jumlah masih terbatas,” jelasnya.

    Untuk perawatan durian kane lanjut Jelada, dilakukan secara intens. Mulai dari pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang, pembersihan tunas, penyemprotan untuk mengurangi hama dan pengairan yang teratur. Demi menjaga kadar humus tanah, pihaknya juga menggunakan daun bambu yang kering di areal kebun durian.

    “Supaya humus tanah tetap terjaga. Sehingga pohon durian tetap berbuah. Biasanya musim berbuah dari bulan Agustus sampai Maret. Saat panen usahakan harus disiapkan orang yang paham tentang durian. Soalnya perlu diketahui, mana durian yang sudah matang dan belum,” imbuhnya.

    Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Made Sumiarta mengakui jika kualitas durian Kane yang dibudidayakan di Desa Tamblang sudah mampu bersaing di pasaran. Sebab, selain unggul dari sisi ukuran yang besar, keunggulan lainnya adalah durian ini juga memiliki rasa yang enak dengan daging buah yang tebal.

    “Durian kane ini sangat potensi untuk dikembangkan. Apalagi sekarang sudah tidak mengenal musim. buktinya, musim Bulan April masih ada buah durian. Jadi tentu ini memberikan potensi ekonomi yang bagus bagi masyarakat,” sujar Sumiarta singkat.

    Sementara itu, Kabid Hortikultura Dinas Tanaman Pangan hortikultura dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat, Hermanto menyebut jika buah durian adalah salah satu komoditi yang bisa dikembangkan di Daerahnya seperti Mamuju dan Polewali Mandar. Desa Tamblang pun menjadi sasaran kegiatan studi banding karena memang sudah memiliki nama hingga ke pasar Internasional.

    Salah satu yang menarik adalah luas lahan durian yang ada di Desa Tamblang yang tidak begitu luas, namun secara kualitas sangat unggul. Sementara di Daerahnya memiliki lahan yang cukup luas mencapai 10 ribu hektar yang telah ditanami durian. Luas lahan itupun belum termasuk yang ekstensifikasi lahan mencapai 40 hektar untuk pengembangan durian.

    “Petani di sini tidak besar, tetapi kualitasnya mumpuni. Ini yang mau kami adopsi dan benahi di Sulbar. Minimal setingkat dengan kualitas durian di Buleleng,” ujar Hermanto. |RM|

    Berita Terpopuler

    Related articles