Tangan Ampuh Edy Susena Bangkitkan Bumdesa di Panji

Ketua Bumdesa Bhuwana Utama, Edy Susena |FOTO : Ni Luh Sinta Yani|

Singaraja, koranbuleleng.com | Di balik kesuksesan Bumdesa Bhuana Utama Panji, ada sosok yang rela berjuang mempertaruhkan jiwa, raga, harta, dan materiil untuk memajukan desa. Dialah Edy Susena, ketua Bumdes Bhuana Utama Panji yang mampu merubah sistem manajemen di Bumdes menjadi lebih baik. 

- Advertisement -

Edy adalah masyarakat lokal asli Desa Panji. Namun masa mudanya dia pergunakan untuk mencari berbagai macam pengalaman di luar desa, bahkan di luar Bali. Dia mengenyam pendidikan kuliah di Kota Malang, dengan mengambil jurusan ekonomi akuntansi.

Basic ekonomi akuntansi yang dimiliki oleh Edy, mengantarkannya bekerja di bidang perbankan, perusahaan swasta, dan finance. Terakhir sebelum diangkat menjadi ketua Bumdes Bhuana Utama Panji, Edy bekerja sebagai PT MNC Sky Vision cabang Singaraja sebagai Marketing Head.

Kala itu, Edy sudah memperoleh penghasilan 7 jutaan dari perusahaan yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo itu. Namun dia memilih untuk pulang, dan meninggalkan karir puncaknya. Bekerja di perusahaan swasta sangat menyita waktunya untuk melakukan kegiatan menyama braya di desa. Bahkan ketika hari raya galungan, Edy hanya mendapatkan libur setengah hari untuk sembahyang, seusai itu dia harus bekerja kembali.

“Jika saya meninggal, yang akan mengurus kematian saya adalah keluarga dan masyarakat di desa. Sedangkan perusahaan, hanya akan datang mengucapkan duka cita, setelah itu perusahaan tentunya akan mencari pengganti saya” ujarnya. 

- Advertisement -

Awal memilih keputusan tersebut, saudara Edy tidak menyetujuinya. Menurutnya, mengelola Bumdes itu tidak pasti penghasilannya apalagi Bumdes yang baru berdiri. Namun Edy tak gentar dan teguh terhadap keyakinan hatinya. Dia adalah masyarakat asli Panji, maka dia harus mampu memajukan desa Panji. “Kalau bukan kita, siapa yang disuruh untuk mengembangkan desa?” tegas pria 36 tahun itu.

Perjalanan di awal merintis Bumdes, banyak sekali lika-liku yang harus dihadapi oleh Edy. Dia bahkan tidak mendapatkan gaji sedikitpun selama lima bulan pertama ketika Bumdes dibentuk. Berkat pengalaman bekerjanya di perusahaan swasta, Edy memiliki kemampuan memanajemen, membangun relasi, dan berinovasi. Ilmu dan pengalaman yang dia peroleh selama bekerja di perusahaan swasta, dia terapkan di Bumdesa Bhuana Utama Panji.

Dia mulai mengatur karyawannya agar disiplin datang ke kantor hingga disediakan absensi sidik jari. Karyawan yang belum memiliki keterampilan dalam bidang tertentu, dia berikan ruang pelatihan untuk mereka, dan Edy memperkerjakan masyarakat asli Panji untuk bekerja. Tentunya ini membuka lapangan pekerjaan yang luas untuk masyarakat lokal di sana. 

Bahkan, di masa pandemi ini yang sebagian besar karyawan perusahaan di-PHK dan adanya pengurangan gaji, di Bumdes Bhuana Utama Panji malah menambah karyawan dengan gaji yang sudah mencapai UMK. “Di desa bekerja dengan gaji UMK, kemudian bisa dekat dengan keluarga dan bisa melakukan kegiatan nyama braya” ungkap Edy.

Untuk mendisplinkan karyawan, Edy juga menerapkan sistem yang ketat ketika karyawan ingin meminta ijin. Mereka harus mengajukan surat ijin dan sudah ada pengganti yang menggantikan pekerjaannya sementara. Jadi karyawan tidak akan se-enaknya dalam bekerja. 

Dalam mengelola unit usaha di Bumdesa, Edy selalu berusaha untuk mengontrol alur manajemennya, dan sangat pandai melihat celah peluang. Buktinya, tahun 2020 Bumdesa Bhuana Utama Panji mamph memperoleh laba hingga  Rp500 juta.  

Tidak berhenti sampai di sana, Edy berhasil membuat sebuah sistem Bumdesa dengan digitalisasi, yang bernama PAM Desa. Kecanggihan ini memudahkannya mengontrol unit usaha di Bumdesa. Melalui digitalisasi ini juga, Edy mampu meningkatkan transparansi Bumdes. Bahkan PAM Desa ini yang juga dipakai oleh warga dari Jerman yang kebetulan memiliki hunian di Panji. 

Pelayanan kepada masyarakat menjadi prioritas utama untuknya. Saat ini Edy menggiatkan pengembangan UMKM di Panji, baik dari permodalan, pelatihan pembukuan, maupun pemasaran. 

Suami dari Luh Eka Sarinadi juga menuturkan, ternyata menjadi ketua Bumdes lebih berat dibandingkan dengan bekerja di perusahaan swasta, terutama dalam menyeimbangkan profesionalitas dan sisi sosial/masyarakatnya. 

“Satu sisi kita harus tegas dan profesional terhadap karyawan ketika bermasalah. Kalau di perusahaan swasta akan diberikan SP1,2, dan 3 lalu dipecat. Tapi kalau di Bumdes kita jalankan profesional itu, kita akan berbenturan dengan karyawan tersebut dan juga keluarganya. Iya kalau diceritakan yang sebenarnya, kalau tidak bagaimana?” tutup Edy.(*)

Pewarta  : Ni Luh Sinta Yani

Editor      : I Putu Nova A.Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts