Tehnik Kuno Garam Palungan, Kearifan Lokal Warga Pesisir Buleleng

Singaraja, koranbuleleng.com | Deburan ombak terasa kencang. Kerikil-kerikil pantai juga terasa riuh oleh sapuan gelombang laut yang keras di Pantai Tasik, Desa Les, Kecamatan Tejakula. Cuaca memang ekstrem beberapa hari terakhir.  Tapi, di Bali musim penghujan memang datang lebih awal tahun ini.

Seiring itu, para petani garam di pesisir pantai Desa Les, Kecamatan Tejakula juga lebih pendek masa produksi garamnya, hanya sekitar lima bulan. Panas matahari menjadi kunci keberhasilan produksi garam yang berkualitas.

- Advertisement -

“Kami hanya memproduksi selama lima bulan saja tahun ini, hujan pertama itu di akhir Agustus, kami sudah langsung membereskan semua peralatan produksi,” terang salah satu petani Garam di Desa Les, Wayan Kintan.

Kintan adalah salah satu petani atau produsen garam. Namun, Kintan menggunakan lahan milik orang lain. Istilah lokal di desa setempat, hanya sebagai penyakap. Dilahan garapannya itu, Wayan Kintan mempunyai dua unit Tinjungan. Tinjungan adalah sebuah wadah yang digunakan untuk melakukan penyulingan air laut. Bentuknya bulat dibagian atas dan mengerucut ke bawah.

Selama musim hujan kedepan, Wayan Kintan sudah memastikan diri tidak bisa melakoni pekerjaan sebagai petani garam. Kini dia hanya fokus menjadi petani ladang dan peternak sapi.

Palungan dari bahan kayu kelapa yang sudah tua untukmenjemur air Nyah menjadi garam |FOTO : I Putu Nova A.Putra|

Kintan sudah menjadi petani garam sejak kecil, dia belajar dari kakeknya. Lahan produksi garam di wilayah Desa Les dan desa lainnya di Kecamatan Tejakula adalah salah satu warisan tradisi nenek moyang mereka. Mereka sendiri sudah tidak tahu, sudah generasi keberapa yang melanjutkan warisan pekerjaan itu.

- Advertisement -

Bahkan diantara pekerja garam itu, pernah mendapat tutur dari kakek atau buyutnya, bahwa dulu di masa penguasaan Pemerintahan Hindia Belanda, warga Desa Les yang tidak bekerja di ladang garam justru diminta untuk bekerja membuka jalan raya di wilayah Bedugul-Gitgit.

Kala itu, warga yang membuka jalan di Bedugul-Gitgit harus berjalan kaki berhari-hari untuk sampai ke lokasi itu.

“Ini tutur yang kami dapat dari tetua, dua hari sebelum mengerjakan jalan di Bedugul mereka sudah berangkat dari rumah. Itu khusus bagi warga yang tidak bekerja di ladang garam dan diminta untuk bekerja buka jalan di Bedugul,” tutur seorang warga, Ketut Sujarwa.

Bukan hanya Sujarwa yang mendapat cerita seperti itu, tapi warga lain juga seperti Wayan Wisaya. Kini Sujarwa sudah berumur 56 tahun sementara Wayan Wisaya sudah 58 tahun.

Keduanya juga petani garam sejak kecil yang diajarkan mengolah lahan garam oleh orang tua mereka. Sujarwa mempunyai satu tinjungan sementara Wisaya mempunyai dua tinjungan.

Sejauh ini, memang tidak ada referensi resmi tentang sejarah awal pembuatan garam Palungan ini di desa tersebut.

Namun dari sebuah Jurnal Sejarah Citra Lekha, yang diterbitkan Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, yang mengulas tentang Teknologi garam Palung sebagai warisan sejarah masyarakat Pesisir Bali, dicatat bahwa garam merupakan salah satu komoditas penting dalam perdagangan antara Bali, Lombok, dan Batavia dalam abad ke-17.  Kapal-kapal dari Bali yang berlayar ke Batavia membawa muatan garam, di samping komoditas lainnya yaitu budak Laki-laki dan perempuan, beras, gula, asam, babi,  minyak kelapa, pinang, malam, dan kayu. Kapal- kapal dari Lombok yang berlayar ke Batavia juga membawa muatan garam selain beras, kayu, dan budak perempuan.  Sebaliknya, kapal-kapal yang datang dari Batavia membawa barang dagangan  ke Bali berupa porselin, kain, besi tua, obat- obatan, ikan asin, ketumbar, kemenyan, dan  tembaga. Sedangkan barang-barang dagangan yang masuk ke Lombok antara lain laken merah,  ketumbar, peci, dan besi.  

Di abad ke-17 itu, disebutkan  tehnik pembuatan garam dengan Palungan sudah menjadi alat kala itu di sentra sentra produksi garam di wilayah pesisir Buleleng dan Karangasem.

Nah, bukti pekerjaan petani garam sudah diwariskan turun temurun juga dilihat dari peralatan yang digunakan. Garam di Desa Les maupun di Desa Tejakula, dikenal dengan nama garam palungan.  Itu karena, salah satu perabotan untuk mengolah garam ini disebut palungan. Palungan ini merupakan media untuk penjemuran air laut menjadi nyah yakni hasil dari penyulingan di tinjungan. Palungan tersebut terbuat dari batang kayu kelapa yang sudah sangat tua. Hasil pengeringan air laut dari tinjungan itulah yang lama kelamaan menjadi garam.

Sampai saat ini, sejumlah petani garam masih mempertahankan palungan tersebut.

Umur palungan itu sudah mencapai ratusan tahun. Membuat palungan tidaklah gampang. Palungan-palungan yang ada saat ini, dulu dibuat dari kayu kelapa yang juga sudah berumur tua, diatas 50 tahun.

Namun, seiring dengan waktu, banyak juga palungan yang sudah rapuh dan tak bisa digunakan. Disisi lain, saat ini kesulitan mencari pohon kelapa yang benar-benar tua, berumur diatas 50 tahun. Dan, Garam Palungan memang sudah menjadi penopang hidup sejak lama bagi warga Desa Les dan sekitarnya di pesisir Buleleng,Bali utara.

Akhirnya, seiring dengan kemajuan teknologi, sebagian petani garam di Desa Les harus menggunakan teknologi Geomembran. Geomembran adalah lembaran lapisan yang dipasang diatas tanah atau tempat penjempuran air laut yang telah disuling. Lembaran membran tersebut bersifat tahan air, korosi, minyak, asam dan tahan terhadap cuaca panas yang tinggi. “Jadi bukan terpal, selama ini banyak orang yang tidak paham mengatakan geomembran ini adalah terpal. Bukan,” tegas Wayan Sri Arsa, juga petani garam setempat.

Baik penggunaan Palungan maupun Geomembran, masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Menggunakan geomembran membuat petani lebih praktis dan cepat saat panen. Selain itu, produksi garam juga lebih tinggi dibandingkan menggunakan palungan.

Namun dari sisi rasa atau kualitas garam, justru lebih bagus menggunakan palungan. Karena proses membuat garam dengan palungan menjadi lebih bersih dan garam tidak terasa pahit. Itu disebabkan zat-zat yang memunculkan rasa pahit tersebut terserap ke pori-pori palungan dan menjadi kristal yang menggumpal dibawah kulit kayu palungan. Itulah pula yang membuat produksi garam palungan lebih sedikit dibandingkan menggunakan geomembran.

Namun harus diakui, bahwa keunikan produksi garam palungan ini menjadi kearifan lokal yang hanya dimiliki oleh Buleleng.

Menurut Sri Arsa, petani garam di Desa Les tergabung dalam kelompok Tasik Segara Lestari 1 dan yang sudah terbentuk pada tahun 2012.  Keanggotaan keseluruhan mencapai 23 orang. Mereka mengelola sebanyak 23 tinjungan. Diantaranya masih ada yang menggunakan geomembran dan ada bertahan dengan palungan.

Dua kelompok petani garam ini juga sudah membentuk koperasi garam yang dinamakan Koperasi Tasik Segara Lestari.

Gubernur Bali Wayan Koster (tengah) melihat produksi garam produksi kelompok garam Tasik Segara Lestari, Desa Les|FOTO : I Putu Nova A.Putra|

Sementara Gubernur Bali, Wayan Koster merasa harus tetap mempertahankan kearifan lokal Bali dari proses pembuatan garam palungan secara tradisional.  

Dia paham kendala saat ini adalah kelangkaan bahan untuk membuat palungan karena harus dibuat dari kayu-kayu kelapa yang teramat tua. Dia mengaku akan memikirkan dan mencari solusinya.

“Kami akan membantu mereka lewat koperasi yang sudah didirikan supaya bisa mempertahankan tradisinya disini menggunakan palungan, kita akan carikan bantuan palungan,” terang Koster saat meninjau lokasi pembuatan garam palungan di Pantai Tasik Desa Les, Senin 6 Desember 2021.

Disisi lain, Koster juga akan menurunkan tim pendampingan agar petani garam bisa mengemas hasil produksi garam terlihat lebih bagus dan bisa dijual untuk kebutuhan hotel, pasar modern dan ekspor. Untuk itu, Pemprov Bali juga akan segera mengurus Hak Kekayaan Intelektual supaya memiliki kepastian jaminan secara hukum dan kualitas yang baik dan bisa digunakan secara luas.

“Kami akan kembangkan sentra garam Desa Les ini menjadi sentra produksi garam yang tertata baik dan menjadi destinasi wisata serta industri menengah produksi garam,” terangnya.

Sementara Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng mencatat potensi garam di Desa Les cukup baik dengan luasan lahan yang hanya tersisa 46 are. Masing-masing anggota kelompok bisa memiliki lahan hingga dua are.

Setiap tahun, petani garam di Desa Lesmenunjang tingkat produksi garam secara umum di Buleleng. Potensi produksinya setiap tahun hingga empat ton sampai lima ton.

“Sejauh ini pemasaran masih lokal, pasar tradisional di pedesaan sekitar Buleleng timur. Harga perkilogram mencapai sepuluh ribu rupiah,” terang Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng, Jon Benni Ariatman.

Pemerintah, kata Benni terus berupaya untuk mengangkat produksi garam rakyat ini untuk menunjang kapasitas produksi nasional. Di Kabupaten Buleleng terdapat beberapa sentra produksi garam diantaranya Desa Les, Desa Tejakula, Desa Pejarakan dan Desa Sumberkima.

Secara umum, kata Benni jumlah produksi garam di Buleleng mencapai 5000 ton hingga 10.000 setiap tahun. Tingkat produksi garam sering dipengaruhi oleh keadan cuaca. (*)

Pewarta : I Putu Nova A.Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts