Belajar Dalam Jaringan Masih Banyak Kendala

Singaraja, koranbuleleng.com | Sejumlah sekolah dasar di Singaraja nampak sunyi. Pasalnya sejak virus Covid-19 di Singaraja meningkat kembali Pemerintah Kabupaten Buleleng kembali membatasi segala kegiatan masyarakat begitupula dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sehingga pembelajaran tatap muka harus diganti kembali menjadi pembelajaran daring (dalam jaringan).

Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi pihak sekolah, siswa, orang tua, dan pemerintah untuk memaksimalkan metode pembelajaran daring yang optimal bagi siswa didik.

Namun dua tahun lebih pandemi Covid19 dan pemberlakukan pembelajaran tatap muka secara daring, ternyaa masih banyak kendala sehingga belajar secara daring belum optimal dilakukan. Di sisi lain,sejumlah orang tua banyak yang mengeluhkan pemberian tugas-tugas sekolah kepada anak didik sementara tatap muka secara daring justru tidak optimal. Kondisi tersebut sangat mengancam masa depan wajah Pendidikan di daerah.

Desak Made Sri Artini, salah satu guru di SDN 1 Paket Agung mengungkapkan bahwa saat ini dari pihak sekolah melaksanakan pembelajaran yang full daring termasuk tugas-tugas semua daring. Kelas 4, 5 dan 6 menggunakan google class room untuk mengelola tugas sedangkan untuk kelas 1, 2, dan 3 itu masih dengan menggunakan WhatsApp grup di paguyuban.

Sementara itu untuk pemberian materi dilakukan sesuai dengan kondisi siswa didik. Karena tidak semua siswa memiliki perangkat yang memadai seperti halnya handphone dan paket data. Pemberian materi dilakukan melalui aplikasi belajar.id yang dapat memudahkan guru dan siswa melakukan pembelajaran daring seperti akses untuk melakukan pertemuan tatap muka secara virtual menggunakan google meet, penyimpanan materi yang bisa diakses oleh siswa, presentasi dan masih banyak lagi.

Selain itu juga diberikan materi berupa video pembelajaran. Namun dalam pemberian video pembelajaran itu masih belum maksimal karena belum semua guru bisa untuk membuat konten video pembelajaran. Dalam hal pengumpulan tugas pihak sekolah juga sangat fleksibel tidak memberatkan siswa dengan soal-soal yang sulit, melainkan soalnya semua berkaitan dengan materi yang sudah diajarkan.

“Saya sih maunya melakukan meeting dengan anak-anak itu setiap hari, akan tetapi kendalanya yaitu tidak semua anak-anak memiliki akses internet seperti kuota, karena saat ini belum diberikan lagi oleh Kemendikbud, untuk saat ini saya mengadakan meeting itu 1 sampai 3 kali seminggu,” ujarnya.

Disisi lain salah satu sekolah swasta di Kabupaten Buleleng SD Mutiara Singaraja juga menerapkan pembelajaran daring menggunakan video pembelajaran, meeting secara virtual baru setelahnya diberikan tugas berkaitan dengan materi yang telah disampaikan. Namun untuk video pembelajaran belum maksimal. Karena belum semua guru bisa membuat konten video pembelajaran. Kendala yang dihadapi juga terkait dengan sarana yang digunakan dalam pembelajaran daring yakni handphone. Karena handphone tersebut ialah milik orang tua jadi ketika orang tua sedang bekerja, siswa didik tidak bisa memakai sarana tersebut.

“Kita atau guru-guru menghimbau agar tugas atau materi yang diberikan dapat diterima oleh siswa, misalnya kalau Vidio pembelajaran bisa dia mengerjakan di sore hari setelah orang tua pulang kerja. Kita tidak memaksakan siswa harus selesai di hari tersebut, kita maklumi juga situasi” jelas Putu Tudi Kepala Sekolah SD Mutiara

Sebelum mengadakan pertemuan virtual pihak sekolah selalu menginformasikan terlebih dahulu kepada siswa, minimal sehari sebelum pelaksanaan meeting. Informasinya terkait materi apa yang akan diberikan dan tujuan pemberian materi tersebut agar siswa didik memiliki persiapan sebelum mengikuti pertemuan virtual. Kemudian ketika ada keluhan dari siswa didik maupun orang tua siswa pihak sekolah akan mendatangkan orang tua siswa untuk diajak melakukan sharing terkait kendala yang dihadapi.

Selain itu dalam mendekatkan hubungan emosional antara siswa dengan guru dalam seminggu diadakan pembelajaran virtual menggunakan metode yang menyenangkan seperti halnya diskusi. Kemudian dirinya juga menekankan bahwa yang terpenting dalam pendidikan anak ialah pendidikan karakternya.

“Kalau bagi kami nilai itu tidak terlalu kami permasalahkan, akan tetapi yang harus dikuasi oleh setiap siswa itu ialah pedidikan karakter. Seperti contohnya sebelum memulai pembelajaran siswa terlebih dahulu melakukan persembahyangan” Imbuhnya.

Sementara itu Made Astika, S.Pd. M.M Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng menjelaskan dalam proses pembelajaran daring tentu harus ada kolaborasi antara masyarakat dengan satuan pendidikan misalnya dalam penggunaan aplikasi. Aplikasi yang dimaksud seperti google meet dan zoom meeting. Tentu kalau kita memandang terkait dengan kesiapan, kesiapan siswa belumlah maksimal. Pertama yakni jaringan internet. Kemudian yang kedua kesiapan daripada murid dalam menggunakan gadget. Sehingga kenyataannya banyak tugas-tugas yang disampaikan melalui WhatsApp termasuk juga bahan ajar yang di sampaikan kepada siswa guna tercapainya target yang telah ditentukan oleh satuan pendidikan.

Ia menambahkan bahwa proses pembelajaran daring itu tidak harus dengan pertemuan tatap muka secara virtual. Akan tetapi dipacu muridnya untuk menggali informasi yang saat ini telah digencarkan oleh pemerintah agar seluruh guru dan tenaga kependidikan menggunakan akun belajar.id. Jadi daring itu artinya bagaimana memanfaatkan teknologi untuk menggali materi atau bahan ajar maupun beberapa alat evaluasi pada jejaring yang tersedia. Hal ini sudah disiapkan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Ristek dan Teknologi melalui Pusat Data dan Informasi (Pusdatin).

“Jadi disitu nanti, baik guru maupun murid dapat mencari bahan ajar, termasuk tugas-tugas lainnya yang ditentukan oleh guru yang bersangkutan” Pungkasnya.

Dirinya menghimbau kepada seluruh tenaga pendidik agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut agar proses pembelajaran daring menjadi lebih baik. |WK|



Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts