Pohon Kepuh di Setra Buleleng Simpan Sejarah Masa Kolonial Belanda

Singaraja, koranbuleleng.com | Pohon Kepuh di Setra Desa Adat Buleleng menyimpan nilai sejarah dari masa kolonial Belanda Dahulu, pohon setinggi kurang lebih 20 meter ini digunakan sebagai alat pengintai para pasukan penjajah yang hendak bersandar di perairan Buleleng.

Di atas pohon itu sempat dibangun sebuah gubuk kecil sebagai pusat pengintaian musuh. Dari ketinggian pohon, para penjajah yang hendak masuk atau menyerang bisa diketahui oleh para pejuang terlebih dahulu dari atas pohon

- Advertisement -

Saat ini, kondisi pohon tampak masih kokoh, daun lebat. Bekas-bekas peninggalan diakui masih ada di atas pohon tersebut. Seperti baut, maupun bentuk pohon di bagian atas yang menyerupai bentuk bangunan rumah segitiga. Diyakini, bentuk itu dulunya dibangun sebuah rumah pengintaian.

Kelian Desa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna mengatakan, Setra Desa Adat Buleleng menyimpan sejarah pada zaman kolonial Belanda. Salah satunya pohon kepuh yang digunakan untuk mengintai para penjajah.

Pengunjung melihat pohon kepuh di Setra Adat Buleleng

Tidak ada yang tahu usia pasti pohon itu, hanya saja banyak yang mengakui jika pohon tersebut sudah tumbuh besar di jaman penjajahan Belanda. Dulu, di pohon itu juga ada sirinenya. Ketika ada kapal Belanda yang datang, sirine akan dibunyikan sehingga pimpinan pasukan perang bisa menentukan apakah akan melakukan penyerangan, atau bersembunyi.

“Pada saat itu, para gerilyawan ditugaskan oleh raja untuk memantau kapal-kapal yang datang di Pelabuhan Buleleng.” ungkap Jro Sutrisna, Kelian Desa Adat Buleleng belum lama ini

- Advertisement -

Untuk mengenang perjuangan para pahlawan terdahulu, Desa Adat Buleleng berencana akan mengembalikan kondisi pohon itu seperti dulu dengan dibangun sebuah rumah pengintaian. Rencananya rumah pengintaian itu akan ditempatkan persis di atas pohon.

Hal ini dilakukan sebagai upaya pelestarian nilai sejarah serta mengenalkan ke khalayak ramai jika di Lokasi Setra Adat Buleleng mempunyai nilai sejarah yang panjang. Prajuru adat justru akan menyulap setra Buleleng menjadi objek wisata.

“Sebagai objek wisata kami sudah melakukan sejumlah persiapan berupa memperindah suasana dengan tanaman-tanaman, jalannya juga sudah kami paving” imbuh Jro Sutrisna

Pembangunan obyek wisata di Setra Buleleng diakui sejalan dengan rencana pemerintah yang ingin membuat program paket city tour di Desa Adat Buleleng. Dimana program ini akan mengajak para wisatawan untuk mengunjungi wilayah-wilayah bersejarah di Buleleng.

Seperti RTH Bung Karno, Rumah Nyoman Rai Srimben yang merupakan ibunda Presiden pertama RI Soekarno, Puri Buleleng, Pancoran kuno yang terletak di sebelah barat Pasar Buleleng, Masjid Agung Jami’, Museum Sunda Kecil, serta Pelabuhan Buleleng.

“Untuk mendukung ini kami juga sudah membentuk Pokdarwis yang nantinya diharapkan mampu mengelola program tersebut,” pungkasnya. |ET|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts