Situs Budha Candi Kalibukbuk dan Kesetiaan Nyoman Witana

Sebagai kawasan wisata internasional, Pantai Lovina memiliki menu perjalanan yang beragam. Dolphin trip yang sudah identik dengan destinasi wisata pantai berpasir hitam rintisan seorang raja Bali dan novelis Indonesia, A.A. Pandji Tisna. Atraksi sampi gerumbungan (sejenis makepung di Negara atau karapan sapi di Madura) di lapangan Desa Kaliasem, tradisi kontes sapi, kekayaan dan kebanggaan para petani, yang telah diwariskan oleh tradisi subak. Tentu yang tidak kalah penting namun dilupa, destinasi literary tourism atau pariwisata sastra, yakni The Litle Museum A.A. Pandji Tisna, tepat di titik nol kilometer Lovina dan Bukit Seraya Nadi, lokasi sang pengarang dari angkatan Pujangga Baru membangun gereja dan tempatnya dimakamkan.

Sejak ditemukan situs candi Budha di perkebunan kelapa milik A.A. Sentanu, dan telah dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya , mengembalikan warisan budaya ini pada wujud aslinya; Lovina menjadi destinasi wisata dunia dengan rentangan yang panjang, dari abad ke-8 (masa pendirian candi Budha ini) hingga era kekinian; dari wisata sejarah, tradisi ekonomi pertanian, religiosistas, politik, serta literary tourism.

- Advertisement -

Situs candi berada di areal perkebunan kelapa, diselingi beberapa pohon ketapang, menjadikan areal candi sangat sejuk. Areal bangunan candi sendiri hanya seluas 800 meter persegi. Namun demikian, dengan adanya undang-undang perlindungan cagar budaya, dalam radius seratus meter situs ini “aman” dari desakan pembangunan di masa depan.

Candi Budha Kalibukbuk terpelihara baik dan cantik. Hal ini tidak hanya karena pemugaran berjalan dengan sangat sukses. Lebih dari itu adalah berkat “juru kunci” yang dipekerjakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya, I Nyoman Witana.

Nyoman Witana

Kesetiaannyalah yang menjadikan kondisi candi terawat apik. Di samping kesetiaan tentu saja “ilmu” soal benda cagar budaya yang ia “curi” dari para arkeolog yang bekerja memugar candi ini, yang dulu ia temani berhari-hari. Pengetahuan ini adalah fondasi kesetiaannya dan sudah barang tentu: rasa cinta atau apresiasi budaya.  

Pagi itu, Minggu 19 Juni 2022, setelah para tamu menyelesaikan dolphin trip dan menyantap teh atau kopi dan pisang goreng di restoran-restoran tepi Pantai Lovina, mereka beranjak ke situs candi Budha. Nyoman Witana tengah bekerja di areal candi. Pengunjung bisa langsung memasuki areal candi yang terbuat dari batu bata dan pada fondasi dan bagian bawah bangunan material yang asli (sejak abad ke-8) masih ada. Di areal utama ini, bangunan terbesar adalah candi induk dan diapit oleh dua candi perwara. Pintu candi induk menghadap ke selatan. Ruang candi induk sangat luas dan di sinilah para biksu melakukan berbagai ritual, seperti berdoa atau bermeditasi.

- Advertisement -

“Awalnya bapak saya menggali sumur tepat di areal candi induk.” demikian Nyoman Witana memulai kisah ketika pada suatu hari bapaknya yang seorang penyakap secara tiba-tiba menemukan terakota dan bongkahan-bongkahan batu bata dalam ukuran yang tidak lazim karena batu bata candi Budha Kalibukbuk menggunakan ukuran batu bata yang jauh lebih besar dengan ukuran batu bata saat ini, kira-kira lima kali lipat.

“Saat dipugar, digunakan batu bata yang ukurannya sama dengan batu bata asli. Dinas Purbakala memesan khusus di pusat pengrajin bata di Desa Anturan dengan harga yang sangat mahal.” kata Nyoman Witana.  

Ia menambahkan, “Ketika itu (waktu pemugaran, sekitar tahun 1994) harga batu bata 200-250 rupiah per biji. Tapi, batu bata yang dipesan untuk candi harganya 4000 rupiah per biji.”

Karena jasa orang tuanya yang sudah sejak lama menjadi penyakap tanah area candi, akhirnya pemerintah mengangkat Nyoman Witana sebagai “juru kunci”. Istilah ini tidak sepenuhnya sama makna dengan juru kunci makam keramat dalam tradisi Jawa. Ia sebenarnya penjaga dan pemelihara situs setelah dipugar.

Sebagai “juru kunci”, Nyoman Witama menjaga candi Budha Kalibukbuk dengan tanggung jawab besar dan kesetiaan. Karena itulah, walaupun harus menulis laporan bulanan soal kerjanya dan membawa sendiri laporan ini ke Balai Pelstarian Cagar Budaya di Pejeng (Gianyar) hanya untuk mendapat gajinya yang cuma satu juta rupiah.

Dengan kesetiaan inilah ia tetap menjaga situs candi sepenuh tanggung jawab. “Saya sebenarnya diserahi tugas memelihara candi pada areal seluas delapan are. Tapi kenyataanya lebih dari itu karena justru areal candi sangat luas.” katanya.

Baginya, kawasan candi tidak hanya seluas delapan are. Di luar luas delapan are itu, Nyoman Witana pun harus menatanya dan membersihakannya. “Agar kerja saya mudah, saya beli sendiri mesin pemotong rumput karena usulan untuk dapat mesin tidak pernah dipenuhi.” Itu semua demi cepatnya ia bekerja. “Jika saya menggunakan sabit dan sapu, yang ini hanya dapat sekali dalam setahun, tentu sangat lama saya bekerja”. Katanya.

Karena “pengorbanan” dan kesetiaan itu, kawasan candi yang dinaungi pohon kelapa dan ketapang serta aneka pohon lainnya, menjadi sangat indah.

Mengunjungi situs candi Budha Kalibukbuk, tiada hanya kembali kepada perjalanan dan titik-titik tadisi Budis abad ke-8 di pesisir Bali Utara, tetapi lebih menyentuh dengan apa yang terjadi hari ini, ketika masa lalu hadir pada saat ini. Di sinilah, seorang penjaga situs abad ke-8 mempersembahkan dedikasi dan kesetiaan. Seolah dirinya yang terpilih utuk menjadi pengeja masa lalu untuk masa kini.

Perjalanan ini ingin mengabarkan kesetiaan itu kepada Pemerintah Pusat di Jakarta, juga kepada dinas terkait di Bali, dan kepada Bupati Buleleng, atau seorang ibu cantik wakil rakyat DPRD Buleleng, yang rumahnya sangat dekat dengan lokasi candi, Kadek Turkini, SH; agar menyimak kiranya kesetiaan Nyoman Witana, yang menjaga situs Candi Budha Kalibukbuk, pasca dipugar. Karenanya, siapa saja yang berkunjung ke Lovina tetap dapat menyaksikan titik perdaban dunia yang pernah singgah di Desa Kalibukbuk.

Karena itu, untuk mendapat gaji yang tak seberapa, tak mesti Nyoman Witana pergi ke Pejeng. Nyoman Witana juga tidak harus beli mesin pemotong rumput sendiri dan membeli bensin untuk operasionalnya. Juga, apakah hanya satu juta harga kesetiaannya yang panjang; yang membuat siapa saja menarik garis masa lalu ke abad ke-8, ketika Desa Kalibukbuk atau Pantai Lovina adalah sebuah wilayah dengan infrastruktur multikultur dan pruralisme yang hebat.  

Dia tidak hanya penjaga candi biasa tetapi dia tahu “ilmu” candi dan cagar budaya atau purba kala. Ia tahu bagunan candi Budha Kalibukbuk ini dapat perlindungan negara. Ia tahu, apa makna bangunan ini bagi umat Budha di Buleleng dan fungsi situs ini bagi pendidikan kebinekaan, toleransi, dan kenusantaraan.

Jika singgah di situs, Pak Nyoman akan bercerita tentang foto-foto pemugaran candi dengan sangat bagus atau menceritakan sebongkah besar bata asli yang tidak dipasang lagi. Ia memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai situs ini. Ia tahu bagaimana konservasi bangunan cagar budaya dilakukan. Semua materi candi yang asli dilindungi, “Bata dan benda-benda candi diangkut ke pusat.” katanya. (*)

Penulis : Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. (Dosen Undiksha, Pegiat Gerakan Literasi Akar Rumput pada Komunitas Desa Belajar Bali)

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts