More

    May Day : Membaca Wiji Thukul

    |Sumber foto : internet|

    Penyair Wiji Thukul hilang tiada tentu rimbanya sampai hari ini. Pada hari buruh tahun ini, membaca puisinya menceritakan hidup mereka yang papa, persis seperti pandangan Karl Marx bahwa kepapaan itu terjadi karena mereka diisap dan ditindas oleh kaum majikan, si empunya modal dan mesin pabrik.

    Dikala pagi truk pabrik menjemput para buruh hingga ke batas desa. Para petugas menghitung mereka, tak ubahnya seperti hewan atau para pesakitan. Truk bergerak menuju pabrik bermuatan buruh.

    Di pabrik-pabrik mesin-mesin terus berputar karena pabrik harus berproduksi. Kaum buruh telah lebur dengan roda-roda mesin, memeras tenaganya sepanjang hari. Mereka baru pulang ketika malam dengan badan loyo. Di rumah hanya menyantap nasi dingin.

    Persoalan hidup kaum buruh akan semakin pelik ketika anak-anak mereka sakit. Darimana mendapatkan obat-obatan, pun dokter atau rumah sakit. Mereka tidak memiliki uang. Dan jika buruh melakukan perjuangan nasib, pabrik mogok. Tapi bagi kaum majikan, mesin tidak boleh berhenti berproduksi. Jika ada buruh yang berani mogok, mereka dipecat.

    Wiji Thukul juga mengenang kawan-kawan buruh di manapun, seperti Sofyan di Lembang. Ia terpaksa jualan bakso karena dipecat perusahan. Sebelumnya ia mogok untuk memperjuangkan perbaikan upah. Sodiyah, buruh pabrik teh Ciroyom harus menanggung suaminya yang terbaring di amben kontrakan. Suaminya pucat karena dihantam tipes. Neni yang dulunya adalah pekerja di pabrik kaos kaki dipecat (walaupun kembali menjadi buruh di perusahan lain) karena menolak diperkosa.


    Ancaman lain para buruh adalah derita medis atau kesehatan karena terpapar oleh racun-racun di pabrik. Di Cimahi Udin, seorang buruh sablon, dadanya rusak oleh amoniak. Suti diceritakan oleh Wiji Thukul sedang sakit keras dan tidak bisa ke pabrik lagi. Ia  pucat, duduk dekat amben-nya.

    Batuknya memburu dan dahaknya berdarah. Ia kusut masai, makin kurus, tulang pipinya menonjol. Kawannya yang lain, Sri, mati karena paru-paru.  Suti tidak memiliki uang untuk berobat.

    Buruh juga tidak berdaya memenuhi tuntutan atau pemaksaan kerja dalam jam-jam yang panajng, mengkhianati berkah perjuangan Buruh Internasional, bahwa hanya bekerja 8 jam per hari. Keadaan inilah yang disebut oleh Karl Marx, kaum majikan mencuri dari kaum buruh. Hal ini dijelaskan dalam teori nilai lebih. Derita ini dialami oleh Siti, seorang kawan buruh dari Cigugur. Wiji Thukul menulis bahwa Siti lembur sampai pagi, letih, lesu, membungkuk sepanjang 24 jam.

    Majikan selalu bermaksud memerah kaum buruh demi untung sendiri. Keadaan ini sering ditolak oleh buruh. Wiji Thukul menceritakan derita Eman, kawan buruh dari Majalaya yang bekerja di pabrik handuk. Kini ia nganggur setelah dipecat majikan karena menolak keinginan majikan untuk memeras dan menindasnya. Istrinya lagi hamil tiga bulan.

    Puisi-puisi perjuangan kaum buruh yang ditulis Wiji Thukul, menjelaskan bahwa dunia buruh dimana-mana sama, seperti derita dan cerita milik Sofyan, Udin, Suti, Sri, dan lain-lain.

    Namun demikian, Wiji Thukul menegaskan atau dirinya tengah berteriak bahwa kaum buruh pantang mundur walau mulut harus dibungkam popor bedil di Kodim. Strategi puitik perjuangan buruh diceritakan dalam salah satu puisi Wiji Thukul. Puisi ini menggalang kekuatan kaum buruh yang jumlahnya sangat banyak. Wiji Thukul menganjurkan agar kaum buruh satu hati, satu tuntutan bersatu suara. Hal ini sejalan dengan kalimat pembuka yang paling masyur dari Manifesto Komunis: Kaum buruh di seluruh dunia bersatulah! Bisa juga menggalang kekuatan buruh berbasis satu pabrik: satu pabrik satu kekuatan! Jika mampu demikian, Wiji Thukul yakni, buruh tidak mati. Dan hal itu bukan mimpi! Ia menguraikan perjuangan buruh satu hati, satu suara, satu tuntutan yang berbasis satu pabrik maka akan sangat kuat untuk melakukan pemogokan, lalu bisa diperluas lagi ke pabrik-pabrik yang lain. Jika hal itu terwujud, satu kali saja berjuta-juta bruh mogok kerja, maka akan terasa kekuatan hebatnya dan membikin kaum majikan atau kapitalis akan kelabakan karena pabrik tekstil tidak akan bisa memintal kapas jadi benang. Kapas akan tetap berupa kapas. Karena itu, kain juga tidak akan ada. Pabrik pasti akan lumpuh.

    Hidup kaum buruh pekat oleh derita. Mereka tidak bisa bikin dapurdi rumah kontraknya. Demikian pula tidak mampu membeli panci, kompor, gelas minum dan wajan penggoreng karena upah dalam waktu singkat telah berubahmenjadi odol-shampo-sewa rumahdan bon-bon di warung yang harus dilunasi. Buruh mustahil akan bisa memiliki rumah karena harga semen dan cat melambung, sekalipun mereka kerja di pabrik cat. Wiji Thukul mempertanyakan, mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekalengcat,padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam.

    Perjuangan kaum buruh tidak bergantung atau ditentukan oleh departemen tenaga kerja. Satu keyakinan bagi Wiji Thukul, nasib buruh ada di tangan buruh sendiri karena derita tidak diubah oleh siapapun. Tidak juga akan diubah oleh Tuhan Pemilik Surga. (*)

    Penulis : Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. (Dosen Undiksha, Pegiat Gerakan Literasi Akar Rumput pada Komunitas Desa Belajar Bali)

    Berita Terpopuler

    Related articles