More

    Memaknai Nama Tiying Tali di Era Kini, Menghormati Rasa Tetua Kita

    Bendungan tiying Tali |FOTO : Gede Ganesha|

    Nama Tiying Tali ini sangat melegenda, sebuah nama bendungan dan daerah aliran sungai (DAS) di Desa Panji. Bagi warga desa Panji,  sejak lama bendungan Tiying tali adalah lokasi wisata lokal. Dikunjungi pada momen tertentu, seperti hari raya Umanis Kuningan, beberapa waktu lalu. Sebagian warga desa berwisata ke sana.

    Diatas bendungan ini, terdapat air terjun dengan panorama lihai alami, air terjun Canging. Masih satu jalur dan terbendung di bendungan Tiying Tali di wilayah banjar dinas Mekar Sari, Desa Panji.

    Lebih luas lagi, Bendugan tiying Tali ini berada di kawasan hutan desa Panji, yang kni dikelola Desa Panji.  Udaranya masih bersih, aliran sungainya jernih dan untuk menyusuri wilayah ini akan menjadikan rongga paru juga jadi lebih bersih.

    Patut berbangga terhadap para tetua di Desa Panji, menamai sebuah tempat. Nama yang terdengar biasa tapi jika ditelaah lebih dalam begitu romantis dan syarat makna.

    Tiying Tali sendiri adalah sebuah tanaman bambu lokal yang bertebaran di hutan atau tegalan, kala itu.  Jenis Bambu ini baik digunakan sebagai bahan tali pengikat.

    Tanaman Tiying Tali ini tentu sangat bermanfaat banyak untuk kehidupan orang Desa, tidak hanya jadi kebutuhan untuk sarana upacara yadnya tapi juga kehidupan lain untuk sehari-hari. Betapa banyak bangunan tempat tinggal manusia dengan piranti bamboo. Bahkan kandang ternak juga berbahan bambu.

    Menurut salah satu pemuda yang cinta lingkungan, Gede Praja, di tempat ini memang pH tanahnya atau tingkat kebasaaan sangat bagus untuk jenis tanaman bambu.  Bambu memiliki manfaat yang sangat baik untuk lingkungan karena Bambu ini salah satunya juga difungsikan sebagai tanaman konservasi. Mampu menjaga ekosistem air. Akar-akarnya akan menyebar segala arah baik kedalam maupun ke samping tetapi sistem akarnya sendiri memiliki kerapatan yang sangat baik. Akar bambu membuat tanah menjadi lebih stabil.

    Kesadaran tinggi para tetua kita tentang kekuatan bambu baik untuk lingkungan dan manusianya, untuk menjaga alam, juga untuk keperluan piranti manusianya menjadikan tanaman ini sangat dihormati oleh mereka.  

    Mungkin saja, iya mungkin saja,  kenapa dipilihnya nama Tiying Tali untuk bendungan, itu sebagai bentuk penghormatan para tetua kita. Betapa romantisnya mereka.

    Klian Subak Tegal Desa Panji,  Nyoman Soma Jana  menuturkan bendungan Tiying Tali ini sudah ada sejak tahun 1980an.

    Nama Tiying Tali  juga digunakan sebagai OrganisasI Perkumpulam Subak Gede Tiying Tali. Bendungan Tiying Tali ini mengaliri lahan dari 20 kelompok Subak.  Tersebar di beberapa desa Desa Panji, Panji Anom, Desa  Tegallinggah dan Desa Sambangan di Kecamatan Sukasada  dan Desa Baktiseraga di Kecamatan Buleleng.

    Setiap setahun sekali, biasanya mendekati masa tanam, pengurus subak melaksanakan upacara “magpag toya”, di aliran sungai tiying Tali. Sebuah upacara untuk menghormati air dan juga Untuk memohon kelancaran  air yang akan mengaliri sawah-sawah di subak yang ada.  Sehingga bisa panen dengan baik.

    Soma bertutur debit air dari daerah aliran sungai Tiying Tali memang lebih kecil dibandingkan di masa lalu. Itu karena sumber airnya saat ini juga digunakan untuk kebutuhan air bersih masyarakat.

    Upaya untuk menjaga kelestarian air juga telah beberapa kali diupayakan oleh para petani yang tergabung di subak gede,  salah satunya penanaman pohon, tapi memang diakui kegiatan belum maksimal bisa dilakukan.   

    Sebenarnya yang masih digunakan untuk Bendungan tiying Tali, nama subak gede tiying Tali bisa dimaknai sebagai pesan bahwa semestinya kawasan hutan harus tetap ada tanaman bamboo atau tiying jenis tiying tali. Tentu sangat aneh bukan jika kawasannya bernama Tiying Tali tetapi malah tanaman tersebut tidak ada.

    Dikawasan ini sudah tidak banyak tanaman tiying Tali itu. Jika kita juga punya kesadaran yang sama dengan para tetua kita, seharusnya tahu apa yang bisa kita lakukan, yaki kembali menanam bambu.

    Tetapi manusia selalu berubah, era kekinian kadang pikiran manusia selalu merasa lebih hebat dari generasi sebelumnya. Ditengah kemajuan teknologi, generasi kini berfikir merasa lebih baik dari era dulu.

    Semestinya ada kesadaran bersama bahwa manusia harus hidup harmonis dengan alam,  sebagaimana para tetua dulu yang menjulang menghormati alam.  Dengan kemajuan teknologi yang kini ada , sebenarnya percaya pasti bisa berbuat lebih banyak untuk alam, menjaga alam untuk masa depan generasi selanjutnya. Mari Memaknai nama Tiying Tali dengan kebesaran hati dan jiwa. (*)

    Penulis : Gede Ganesha (Tokoh Pemuda Desa Panji, Ketua BPD Desa Panji dan Pengabdi Demokrasi)

    Berita Terpopuler

    Related articles