More

    Vaksin Menyebabkan Jatuh Cinta, Fvksin?

    “Siapa bilang vaksin menyebabkan kematian, kejang-kejang, berbusa, dan hal tidak wajar yang dialami oleh tubuh setelah di suntik cairan vaksin. Kalau boleh jujur, saya lebih takut jarum suntiknya yang bikin nyutnyutan dan pemberitaan gawat di media sosial terkait efek vaksin daripada ketakutan pada vaksin itu sendiri. Ayo vaksin kawan, dan selamat jatuh cinta untuk keselamatan bersama dan keselamatannya” – merawatingat

    Sebelum masuk pada inti pesan tulisan, ada baiknya pembaca terlebih dahulu memahami pengantar yang sedang kalian baca dimulai dari paragraf ini. Setiap manusia pasti memiliki rasa cemas dan khawatir sebab manusia memang diberikan kesanggupan akan hal itu. Namun, apakah hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran merupakan hal yang baik bagi kesehatan akal dan fisik seorang manusia? Tentu tidak, justru rasa cemas dan khawatir berlebih merupakan hal yang perlu kita hindari karena penyakit yang sebenarnya membuat orang sakit justru disebabkan oleh pikiran dan ketakutan-ketakutan berlebih yang di dalam pikiran manusia. Didalam tulisan ini akan sedikit banyak membahas tentang vaksin sebagai sebuah solusi untuk besarnya kasus positif Covid-19 karena beberapa diantara kita mengalami kecemasan dan kekhawatiran terkait adanya wajib vaksin. Perlu saya tegaskan bahwa judul diatas bukan maksud untuk mendiskreditkan vaksin ataupun mengajak setiap orang untuk tidak melakukan vaksin apalagi niat hati ingin mem-propaganda masyarakat agar tidak patuh pada himbauan pemerintah terkait kewajiban vaksinasi. Tujuan vaksin mengacu pada mengurangi dampak pandemi Covid-19 menuju keselamatan bangsa Indonesia, karena perjalanan panjang bangsa Indonesia menghadapi pandemi sejak tahun lalu masih pada tahap transisi, jadi wajar jika persentase orang yang terjangkit Covid-19 jumlahnya naik turun. Karena negara manapun di dunia internasional dalam penanganannya juga dalam fase tahapan transisi, karena Pandemi Covid-19 masih terbilang baru yang baru muncul di abad dua puluh.

    Lantas apa itu Fvksin, Definisi Vaksin dan Fvksin (seperti tulisan pada judul) adalah dua pengertian yang berbeda. Maka tidak dianjurkan jika pembaca hanya memaknai judul tanpa terlebih dahulu membaca tulisan ini secara keseluruhan. Pasti pembaca akan bertanya apa sih Fvksin? Jika pembaca mengenal vaksin seperti pada umumnya bahwa dalam vaksin terdapat zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksin terdiri dari banyak jenis dan kandungan, masing-masing vaksin dapat memberikan penggunanya perlindungan terhadap berbagai penyakit yang berbahaya. Vaksin mengandung bakteri, racun, atau virus penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau sudah dimatikan. Saat dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, vaksin akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi. Proses pembentukan antibodi inilah yang disebut imunisasi. Seperti apa yang sudah dijelaskan oleh Kementerian Kesehatan untuk definisi vaksin. Sedangkan Fvksin adalah sejenis berita-berita bohong (hoax) yang dikeluarkan media dengan tujuan menimbulkan huru-hara, carut-marut, kegaduhan, anomali negatif, dan bahkan puncaknya bisa mengancam kestabilan dalam kehidupan bernegara karena berita bohong perngaruhnya sangat besar bagi kesadaran kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan bersama. Fvksin juga serupa vaksin namun komponen unsurnya berbeda. Didalam Fvksin terdapat bakteri, virus, dan racun yang belum dinetralisir namun bentuknya bukan dalam bentuk cairan atau segala bentuk dalam pengertian medis yang disuntikkan pada tubuh, tetapi Fvksin dalam bentuk berita-berita media yang ketika dibaca menimbulkan ketakutan, rasa khawatir berlebih, cemas yang terlalu hingga sugesti yang mengganggu dan aneh-aneh. Apalagi jika Fvksin ditelan mentah-mentah tanpa filter kebijaksanaan (menggunakan akal sehat dari pengetahuan yang kita punya).

    Setiap masyarakat berhak menolak untuk di vaksin dengan alasan tertentu dan juga dengan cara yang baik. Jangan sampai di-Lebaykan terkait dengan pengertian, tujuan dan dampak yang akan terjadi pada manfaat vaksin itu sendiri. Setiap individu yang tinggal di negara merdeka pun boleh mempertanyakan kebijakan terkait vaksin namun jangan sampaikan keluar dari subtansi yang sebenarnya apalagi sampai membesar-membesarkan dampak negatif dari vaksin yang hanya akan meracuni psikis publik dan menyebabkan sakitnya pikiran dan fisik (kepikiran). Kita bisa lihat secara keseluruhan di beberapa media online maupun yang cetak betapa getolnya pemberitaan dampak vaksin pada seseorang yang mengalami kejang-kejang bahkan ada yang meninggal dunia. Yang perlu kita telaah kembali, berapa banyak orang meninggal sehabis divaksin? Dan seberapa banyak orang yang tidak mengalami gejala kejang-kejang dan kematian setelah di vaksin? Semisal yang mengalami kematian setelah vaksin ada tiga orang, ntah kematian tersebut disebabkan oleh vaksin atau penyakit yang diderita sebelumnya atau sudah takdir ajalnya sedang menghampiri. Hal itu sangat jarang dinalarkan secara akal sehat oleh pembaca awam yang kurang hati-hati menyerap informasi hingga mengakibatkan rasa cemas sehabis membacanya. Disisi lain media menggiring opini publik seakan-akan vaksin menyebabkan kematian dengan polesan judul dan tagline yang menarik untuk dibaca. Biasanya judul yang marak dibuat berbunyi begini “Seorang warga di desa X meninggal setelah di Vaksin” sebagian orang yang tidak bisa mencerna informasi dengan pengetahuan tentunya akan menyimpulkan bahwa Vaksin menyebabkan kematian seseorang, bagi yang membaca dengan mengenal pengetahuan ia akan cenderung menggunakan alat analisisnya sebelum menyimpulkan. Ingat kata “setelah” pada judul artinya seseorang meninggal sehabis melakukan vaksin, jika kalian baca dengan memaknai didalam setiap berita tidak menjelaskan secara utuh terkait kinerja vaksin sampai bisa membunuh. Dan satu lagi, jangan suka menyimpulkan sesuatu dengan responden berskala kecil kemudian mengambil suatu langkah keputusan dan tindakan. Logika sederhananya, seseorang perempuan menjalin hubungan asmara dengan seorang laki-laki kemudian putus karena laki-lakinya selingkuh, dilain momen si perempuan menjalin kembali dengan laki-laki yang berbeda tapi akhirnya putus juga karena si laki-laki sudah bosan menjalin hubungannya. Kemudian perempuan tersebut mengalami prustasi karena selalu gagal kemudian menyimpulkan bahwa semua laki-laki sama saja (sama-sama brengsek, misalnya), bayangkan ada ribuan juta laki-laki yang dia anggap sifatnya sama dengan mantannya (suka gagalin hubungan yang sudah serius), padahal tidak semua laki-laki begitu. Sama halnya dengan vaksin, hanya saja habis di vaksin dia meninggal dunia karena sudah waktunya atau memang dia tidak mengikuti saran dokter untuk perlakuaan setelah vaksin, jadinya mengalami hal demikian. Jika benar begitu bukan karena vaksinnya tetapi karena kecerobohan manusia. Saya sudah dua kali menjalani vaksin, sebelum proses itu berlangsung saya terlebih dulu ditanya terkait riwayat penyakit dan juga terkait konsumsi obat-obat tertentu dalam jangka panjang sekaligus beberapa instrumen pertanyaan yang perlu dijawab sebelum di vaksin, jika sudah maka tinggal menunggu informasi lanjutan apakah layak di vaksin atau tidak. Secara subjektif hal tersebut sudah maksimal dalam penanganan Covid-19 sekarang yang menjadi masalah adalah kesadaran dari setiap diri.

    Ada banyak orang yang setalah vaksin tetapi tidak mengalami kejang-kejang dan kematian, atau hal buruk lainnya sekalipun efek vaksin macam-macam tapi tidak se-lebay media-media cari sensasi yang menimbulkan keragu-raguan. Justru saya habis Vaksin itu mengalami beberapa gejala berbeda, dan sampai hari ini berjalan di hari ketiga dengan gejala yang berbeda-beda. Dihari pertama saya merasakan suatu efek kekaguman, ntah mengapa selepas saya pulang dari tempat vaksin di salah satu tempat di Kuta, tiba timbul rasa jatuh cinta. Silahkan baca prosa bukan prosa yang saya tulis semoga dapat menguatkan kepercayaan pembaca untuk segera di vaksin. Ayo vaksin, tolak fvksin. Jangan terlalu seriuss ahh…

    Prosa: Vaksin Menyebabkan Jatuh Cinta

    “Alasan tak berdaya dalam ekspresi cinta”- Jalaluddin Rumi

    Aku bingung memulai kalimat ini dari mana, tau sendiri kan? Menjelaskan cinta itu tidak segampang menjelaskan satu tambah satu sama dengan dua (1+1=2) betapa cinta itu kompleks dan absurd apalagi untuk dilogikakan dengan segenap tetek bengek rasionalitasnya, sekali lagi tak segampang itu wahai pembaca yang budiman. Namun jangan kecewa, saya akan tetap berusaha dengan segenap tujuan baik menceritakan pengalaman ini. Kita mulai dengan kaki yang melangkah ketika pagi itu datang, aku datang ke sekolah dengan kesepakatan dengan beberapa rekan kerja untuk melakukan vaksin dengan surat pengantar dari sekolah tampat dimana saya mengajar, karena malam hari sebelumnya kita telah terlebih dahulu sepakat untuk datang lebih pagi kesekolah dalam rangka berangkat bersama-sama ke tempat pelaksanaan vaksin yang diselenggarakan oleh Diskes setempat. Bisa dibilang itu rekor pribadi pertama saya di tahun 2021 bahwa saya orang yang bisa datang lebih pagi tanpa identik dengan kata terlambat dan tepat jam 07.00 kita segera berangkat ke tempat vaksinasi yang terletak di pusat mall dan hotel. Seperti pelaksanaan pada umumnya terjadi suatu antrean yang mengharuskanku menunggu giliran, akupun menunggu dengan menenangkan pikiran dan mental (karena aku takut suntikan). Namun vaksin bukanlah hal yang perlu kita ruwetkan ataupun suatu momok masalah, yang terpenting saya mendapatkan vaksin dengan tujuan memutus penyebaran virus yang lagi booming saat ini (covid-19), tujuan yang kedua sebagai bentuk kepatuhan saya sebagai warga negara untuk menjunjung tinggi keselamatan bersama apalagi kapasitasku sebagai seorang pendidik, setidaknya bisa memberikan contoh yang baik dibalik tupoksiku sebagai pengajar yang bisa dijadikan hal-hal untuk bisa diteladani (meskipun sedikit). Sebelum suntik-menyuntik yang disebut vaksinisasi terjadi, sengaja agar diri enggan dan tahan diri untuk membaca berita-berita di media, bahkan hanya untuk sekedar mencari tahu tentang persiapan vaksin akupun cenderung menutup diri sebab bukan manfaat vaksinnya yang diberitakan tetapi tentang kematian akibat vaksin yang menjadi trending topic seperti kejang-kejang akibat vaksin dan serupanya yang menjadi kesan negatif tentang pengertian vaksin. Ada hal menarik dari sekedar vaksin dan gejalanya, aku lebih suka menyempatkan diri membaca buku Raditya Dika daripada berita-berita yang menimbulkan suatu ketakutan yang berlebih. Mobil medispun tiba, artinya vaksin akan segara hidup di sel-sel darahku untuk menangkal Covid-19. Petugas kesehatan keluar dari mobil Diskes dengan membawa peralatan medis dalam penanganan peserta vaksin, namun disatu sisi sorot mataku nggak bisa teralih dan mulai terjangkit gemulainya lambaian tangan dan matanya yang bulat bak rembulan aduhai syahdu bukan main ya Tuhan, dan ini benar-benar seorang perempuan yang menawan. Salah satu petugas kesehatan datang dengan bulu mata yang indah, kulitnya yang bening dan segenap kemurahan hati serta tentang haluku pada senyumnya yang terhalang (senyumnya terhalang oleh masker bewarna putih yang dia pakai untuk menutupi jantung dan hatinya) dan aku mulampaui halusinasi dalam bayang-bayang. Astaga, ini momentum penting bagi laki-laki kurang ajar dengan sagala kegenitannya segenap kesanggupannya untuk jatuh hati sebelum mengenal dirinya bahkan namanya saja belum tahu. Tapi ini suatu hal yang wajar (namun jangan keseringan, bahaya), kamu tau apa yang kualami sebenarnya sudah dijelaskan oleh komedian yang sekaligus penulis kreatif sebelum aku berada di posisi ini, dia bilang begini: Cara dia ngelihat cinta akan berbeda semenjak patah hati itu. Aku ini habis patah hati, dengan segenap tenaga dan pikiran melupakan asmara yang telah sirna dan aku yakin yang sirna akan terganti dengan hal yang baru dan yang lebih berarti. Hari ini Tuhan lagi-lagi memberikan makna senada dengan lagu Banda Neira kalau ngga salah begini liriknya:

    Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna. Yang terus berulang suatu saat henti. Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti”.

    Seakan-akan dia adalah ganti dari apa yang telah hilang dan telah sirna. Sejenak aku buang pikiran tegangku menyambut vaksin ini. Aku lupa akan gejala vaksin dan segala carut-marut tentang tanggapan nitijen akibat pemberitaan Hoax itu. Yang jelas, aku sedang mengalami gejala sebelum vaksin itu mengidap di tubuh ini. Setelah sekian menit mengantre, tiba giliranku di hadapannya, dan dialog pun terjadi, apa anda pernah memiliki riwayat sakit ? ujarnya sambil menatap mata beberapa detik dalam pertanyaannya, dan lalu aku menjawab dengan kalimat agak-agak “Ada mbak, saya sakit hati dan kecewa pada masa lalu”, sontak dia kembali menjawab “serius, saya bertanya mas” lalu kemudian saya kembali menanggapi kalimatnya “Aku serius mbak, tapi tau nggak? Bahwa yang serius terkadang tidak bisa menyelesaikan masalah” lalu kemudian dia tertawa dan kembali menanggapi “benar juga mas, itu gak salah. Kalimatnya keren. Langsung vaksin saja ya, mas sehat cuma sakit hati pada masa lalu saja” kembali saya menjawabnya “silahkan mbak. suntik saja, saya tidak lagi merasakan sakit hati pada masa lalu karena masa depan dihadapan saya”. Skip saja dialog yang terjadi diantara aku dan dirinya. Vaksin pun berlangsung dan malam harinya memang sedikit merasakan lelah dan banyak mengeluarkan keringat namun setelah itu tidak lagi ada masalah serius yang menimpa tubuh saya, yang terjadi justru nilai-nilai cinta itu mulai ada. Pertama saya cinta pada keselamatan bersama, kedua saya cinta pada petugas kesehatan yang sepenuh hati berjibaku membantu masyarakat untuk melakukan vaksin. Perlu digaris bawahi, konteks ini bukan tentang cinta untuk saling memiliki ya, sebab itu beda definisi. Jadi secara kesimpulan vaksin tidak menyebabkan kematian, buktinya saya baik-baik saja seperti kebanyakan orang pada umumnya yang melakukan vaksin. Justru berita bohong terkait efek samping vaksin yang menyebabkan kematian justru itu yang menyebabkan penyakit berbahaya yang sebenarnya. Pertanyaannya begini, Benarkah pikiran menyebabkan penyakit? Dikutip dari Halodoc, bahwa pikiran bisa mempengaruhi kondisi tubuh yang menyebkan penyakit. Pikiran seseorang bisa menyebabkan munculnya gejala atau perubahan fisik pada tubuhnya gambaran sederhana dari kondisi ini adalah saat seseorang merasa sangat takut dan tertekan, ketika hal itu terjadi maka seseorang akan mengalami gejala berupa detak jantung menjadi cepat, mual hingga muntah, sakit kepala, sakit perut, hingga nyeri otot. Kondisi-kondisi tersebut adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran. Jadi, hati-hati dalam membaca berita terkait efek samping vaksin yang terlalu di dramatisir karena kepentingan yang justru jika hoax ditanggapi serius hal tersebutlah yang menyebabkan penyakit pada diri kita. Vaksin itu sehat, yang bahaya itu Fvksin (berita bohong) yang hanya akan merusak segalanya.(*)

    Penulis : Indra Andrianto. Juga penulis buku “Kumpulan Opini: #merawatingat” yang terbit tahun 2018 di Pataba Press, Blora. Lahir di Bondowoso Maret 1995. Penulis merupakan demisioner ketua umum Komisariat FIS HMI Cabang Singaraja (2015-2016) dan alumni Universitas Pendidikan Ganesha yang saat ini menjalani profesi guru di JB School, Badung-Bali

    Berita Terpopuler

    Related articles