Sebelum Tanding Desak Rita Kena Cacar, Makanan Favorit Ternyata Pindang Sambal Tomat 

Singaraja, koranbuleleng.com| Desak Made Rita Kusuma Dewi, berhasil mencatat sejarah emas sebagai peraih medali emas pada  kategori speed putri, cabor panjat tebing pada Asian Games di Hangzhou, China. 

Perolehan emas ini membanggakan Indonesia. Detik-detik Desak Rita memperoleh emas sangat menegangkan. Tapi dia terlihat sangat fokus dan berusaha memusatkan pikirannya untuk memanjat papan tebing. Dia juga terlihat berdoa sebelum bertanding. Kerja keras Desak Rita berbuah manis.

- Advertisement -

 

Desak Rita (Sumber foto FPTI Official)

Prestasi yang diraih Desak Rita juga membuat bangga keluarganya. Dia mampu membantu kebutuhan ekonomi keluarga.  

Dalam pertandingan Asian Games di Hangzhou,  Desak Rita berhasil mengalahkan atlet panjat tebing putri dari China, Deng Lijuan. Dia pun berhasil membawa pulang medali emas, setelah menorehkan catatan waktu 6.364 detik. Namun, perjuangannya meraih emas tersebut bukan hal yang mudah. Desak Rita, sebelumnya harus melawan cacar air yang di deritanya sebelum pertandingan.

Ayah Desak Rita, I Dewa Putu Sekar mengatakan, sebelum menjalani pertandingan anaknya tersebut sempat sakit. Desak Rita diketahui mengalami cacar air, yang mengakibatkan badanya sakit. 

- Advertisement -

Desak Rita sempat menangis, saat dihubungi oleh ayahnya tersebut. Namun, karena tekadnya yang begitu besar Desak Rita berhasil menahan rasa sakit itu hingga berhasil menambah medali untuk Indonesia.

“Desak kemarin sempat sakit. Dia nangis karena besoknya mau bertanding, karena badannya semua sakit karena cacar air. Tidak dibolehin minum obat, takutnya dikira doping. Mau diganti dengan yang lain, Desak bersikukuh tetap untuk bertanding, saya selalu minta doa untuk dimudahkan. Dan waktu saya tonton di berita, dia menang di final,” ujar Sekar saat ditemui di rumahnya di Banjar Dinas Banjar Anyar, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Desak Rita, yang merupakan anak kedua dari pasangan suami istri  I Dewa Putu Sekar, 51 tahun dan Jro Komang Sari Artini, 51 tahun. Memang dikenal, sebagai pribadi yang bertekad kuat dan disiplin. Pribadi itu, sudah dimiliki Desak Rita sejak kecil. Bahkan, dia yang sempat dilarang mejadi atlet oleh orang tuannya tetap kekeh untuk berlatih.

Sekar menuturkan, pada saat Desak Rita, duduk di bangku kelas dua SD Negeri 2 Sambangan, anaknya tersebut nekat menyewa ojek sendiri untuk pergi latihan. Di umurnya yang masih belia itu, Desak Rita pun sudah itu berhasil menorehkan prestasi. Namun, hal itu tetap tidak mendapat dukungan dari Sekar. Dia takut, anak perempuannya itu cedera karena memanjat dingding yang tinggi.

“Awalnya tidak saya dukung, karena anaknya saya ini cewek naik tinggi-tinggi, takut jatuh. Baru saya dikasi pemahaman dari Ketua Umum FPTI Buleleng H. Wahjoedi, bahwa talinya itu aman. Akhirnya saya ijinkan, dan saya antar-antar saat ikut kejuaraan,” kata dia.

Sambil merapikan puluhan medali yang didapatkan Desak Rita, Sekar kembali menceritakan perjuangan anaknya untuk bisa ke level ini pun begitu keras. 

Saat ingin berangkat latihan harus menunggu ibunya Sari Artini, untuk berjualan pandan. Namun, uang tersebut itu pun hanya di pakai pegangan untuk jaga-jaga ketika ada sesuatu di jalan. Selain itu, saat mengikuti kejuaraan. Sekar hanya bisa membelikan anaknya itu, celana dengan harga Rp15 ribu.

“Saat itu, saya hancur banyak terlilit hutang. Saat itu, pas Desak mau latihan pulang sekolah harus menunggu ibunya dulu cari pandan. Kemudian uang 30 ribu, yang didapat dari jualan pandan itu untuk bekal tapi tidak boleh dipake belanja, untuk jaga-jaga di jalan saja,” ucapnya.

Kini perempuan kelahiran 22 tahun silam, 24 Januari 2001 itu sudah berhasil membangkitkan ekonomi keluarganya dari bonus yang didapat berbagai event dan kejuaran yang diikuti. Dari bonus-bonus itu, Desak Rita membeli beberapa petak bidang tanah yang ada di sekitaran rumahnya. Lahan yang sudah dibeli, ada yang berukuran 11 are dan 5 are. Namun, karena telah menjalani pemusatan latihan mengharuskan Desak Rita jarang pulang ke rumah.

Sekar berharap, nantinya jika telah pensiun dari dunia atlet. Anaknya itu bisa mendapat pekerjaan yang layak, sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dimana, sejak dulu Desak Rita bercita-cita untuk menjadi polisi wanita. Kini Desak Rita, juga akan menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, pada jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi.

“Kalau Desak pulang, nanti maunya dimasakin makanan favoritnia pindang sambal tomat.” ujar Sanu Ibu. 

Desak jarang sekali bisa pulang, selama di Pelatnas tahun 2020, dia tercatat 4 kali pulang. Setiap pulang juga tetap latihan full kerena protapnya seperti itu.

“Tapi secara ekonomi terangkat oleh anak saya. Nama keluarga besar, desa banjar, kabupaten, provinsi bahkan negara terangkat. Itu saya bangga,” kata dia.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Editor. : I Putu Nova Anita Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts