Warga Kayuputih Gelar Tradisi Nyakan Diwang

Singaraja, koranbuleleng.com| Tradisi memasak di luar rumah atau Nyakan diwang pada saat subuh memasuki Ngembak geni, masih berlaku di sejumlah desa di Buleleng. Salah satunya di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Tepat tengah malam setelah hari Nyepi, pukul 00.00 wita di desa setempat. Seorang prajuru adat menggebuk kulkul di desa setempat. Masyarakat Bali meyakini pada pukul tersebut sudah berganti hari.  

- Advertisement -

Warga desa Kayu Putih ramai-ramai mengeluarkan peralatan masaknya yang ada di dapur dibawa ke pinggir jalan, depan rumah masing-masing warga. Satu hari setelah Nyepi ini, warga wajib memasak di luar rumah sebagai sebuah tradisi turun temurun.

Warga memasak di luar rumah sebagai bentuk kegembiran, keriangan menyambut tahun baru saka. Setiap tahun begitu. Dengan cara itu, warga melaksanakan keakraban sehingga kekerabatan antar keluarga maupun tetangga terus terjalin erat. Setelah hampir satu tahun diantara warga desa sibuk dengan beraktivitas di pedesaan, mereka dipertemukan dalam momen keakraban di jalan raya saat pagi buta.

Tidak canggung, diantara warga menengok tungku yang digunakan untuk memasak. Mereka saling sapa dan menanyakan, masakan apa yang diolah pada pagi buta itu. Lalu cerita diantara warga terus berlanjut sambil mereka memasak.   

Warga memenuhi jalan raya saat tradisi Nyakan Diwang di Desa Kayu Putih

Mereka masih menggunakan tungku tradisional untuk memasak, menggunakan kayu bakar. Tungku itu dibuat dari tumpukan beberapa bata saja, bentuk kotak simetris. Biasanya selesai memasak, bata tersebut juga langsung bisa dibongkar.

- Advertisement -

Saat menjalankan tradisi tersebut, hal utama yang dilakukan masyarakat adalah menanak nasi, memasak lauk, dan memasak air untuk minum kopi bersama. Semuanya dilakukan di depan rumah masing-masing. 

Tradisi Nyakan Diwang kini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Buleleng oleh Kemendikbudristek tahun 2018. Tradisi ini juga tercatat sebagai Ekspresi Budaya Tradisional, Hak Kekayaan Intelektual oleh Kemenhumkam RI tahun 2023. 

Salah satu warga Banjar Taman, Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Gede Bayu Putra Karang, 23 tahun, mengatakan tradisi ini memang selalu dilaksanakan setiap tahun di desanya.

Dia menuturkan, untuk melaksanakan tradisi ini bersama keluarga telah melakukan persiapan sejak pukul 00.00 Wita. Tradisi ini, menjadi hal yang paling ditunggu oleh warga setempat usai melaksanakan Catur Brata Penyepian. 

“Pastinya kebersamaan dan silahturahmi. Dan salah satu momen yang ditunggu setelah Nyepi. Karena semua masyarakat berkumpul di luar dan saling bertemu,” ujarnya. 

Kata Karang, saat tradisi tersebut berlangsung, sepanjang jalan desa akan dipadati penduduk. Baginya tradisi ini, juga bisa mengingatkan memori masa lalu. “Seperti saya, selaku generasi muda cukup bangga mengenal dan mengetahui tradisi ini. Semoga tradisi ini selalu ada, ditunggu setiap tahunnya, dan dilaksanakan lebih seru dan ada konsepnya,” kata dia.

Selain menjadi momen silaturahmi antar warga dan keluarga, tradisi ini juga diyakini sebagai simbol melebur Dasa Mala dalam diri dan berharap kehidupan ke depan lebih baik kedepannya.

Bukan hanya di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, tradisi Nyakan Diwang juga dilaksanakan di desa lain yang berdekatan dengan desa kayu Putih. Seperti Desa Banyuatis, Desa Bengkel, Desa Umejero, Desa Gobleg dan lainnya. Hampir seluruh desa di wilayah pegunungan ini melakukan tradisi yang sama. Suasana dingin pada pagi buta akan terasa nikmat dengan kopi hangat dari air yang dipanaskan pada tungku tradisional di pinggir jalan.(*)

Editor : I Putu Nova Anita Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts