Dua Hotel Bersedia Dijadikan Lokasi Isolasi PMI

Singaraja, koranbuleleng.com| Dua hotel di Singaraja siap dijadikan tempat isolasi bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Buleleng yang pulang kampung. Dua hotel itu yakni Hotel Grand Wijaya di Kota Singaraja, dan Hotel Aneka Lovina di kawasan wisata Lovina.

Dua hotel ini bersedia setelah Ketua Tim Gugus Tugas Satgas COVID 19 Buleleng, Putu Agus Suradnyana bersama tim melakukan pendekatan dan pembahasan bersama dengan PHRI Kabupaten Buleleng. Disebutkan, Hotel Grand Wijaya menyiapkan 30 kamar dan Hotel Aneka Lovina menyiapkan 55 kamar.

- Advertisement -

“Sehingga mulai Rabu besok, PMI yang di SDN 1 Banjar Jawa akan dipindahkan ke salah satu hotel di Lovina, yakni Hotel Aneka Lovina. Disana satu PMI akan menempati satu kamar hotel,” ujar Sekretaris Gugus Tugas COVID 19 Buleleng, Gede Suyasa, Selasa 14 April 2020.

Mereka akan dikarantina sampai waktu pantau selama 14 hari. Semua ini, kata Suyasa atas kerjasama dari semua pihak untuk bisa menanggulangi COVID 19.

Suyasa menjelaskan, Bupati juga mengimbau bagi PMI yang berasal dari desa-desa yang tidak memiliki fasilitas hotel atau villa, agar memahami kondisi yang sebenarnya yang ada di desa-desa.

“Agar bisa menerima kondisi di desa-desa, sekiranya di desa ada para pemilik fasilitas wisata memberikan ijin untuk menggunakan, maka itu bisa dilakukan. Apabila tidak ada fasilitas wisata tolong diterima kondisi itu, karena begitulah kondisi sebenarnya,” ucap Suyasa menegaskan.  

- Advertisement -

Bupati Buleleng, Putu Ags Suradnyana selaku Ketua Gugus tugas COVID 19 juga mengaku sudah berkoordinasi dengan PHRI Kabupaten Buleleng. Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Buleleng telah diminta melakukan komunikasi dengan para pemilik hotel di Singaraja. PHRI sebagai induk orgasasi pengusaha hotel itupun akhirnya berhasil meyakinkan sejumlah pemilik hotel di Singaraja untuk disewa dan dimanfaatkan sebagai tempat karantina PMI.

“Saya terus melakukan diskusi panjang dan pendekatan dengan pihak PHRI Buleleng. Akhirnya sampai dengan jam 7 malam ini, PHRI setuju memberikan beberapa hotel untuk kami gunakan sebagai tempat karantina bagi PMI. Nantinya, PMI yang berasal dari seputaran Kota Singaraja akan dikarantina di hotel-hotel tersebut,” ungkap Bupat.

Sebelumnya,  Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID 19 Buleleng mengaku sudah mengetahui adanya keluhan terkait dengan ruang isolasi dengan memanfaatkan gedung sekolah yang disiapkan Pemerintah Kurang representative.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID 19 Buleleng mencatat, hingga Selasa 14 April 2020 sudah ada 42 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sudah menempati ruang isolasi yang disiapkan, mulai dari menggunakan gedung sekolah, villa, gedung posyandu, hingga rumah kos yang disewakan oleh warga.

Namun demikian, ternyata penyediaan tempat isolasi oleh Pemerintah terutama yang menggunakan ruang kelas pada sejumlah gedung sekolah mendapatkan reaksi berbeda oleh masyarakat, termasuk oleh PMI yang menempati ruang tersebut. Beberapa warga termasuk PMI menyebut jika ruangan isolasi yang disiapkan pemerintah tidak representative, bahkan terkesan tidak layak untuk dijadikan tempat beristirahat.

Disisi lain, penyediaan ruang isolasi bagi PMI dengan menggunakan ruang kelas memang disiapkan secara sederhana. Hal itu terlihat dari alas untuk meletakkan kasur untuk para PMI hanya menggunakan bangku sekolah yang dirapatkan. Walaupun Pemerintah juga telah menyiapkan fasilitas lain berupa kipas angin dan juga jemuran untuk PMI. Selain itu, keberadaan kamar mandi di sekolah yag dijadikan tempat mengisolasi para PMI juga Nampak kotor.

Saat Jumpa Pers secara teleconference, Bupati Buleleng sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Buleleng Putu Agus Suradnyana mengaku sudah mengetahui keluhan ketidak nyamanan PMI itu pada media sosial. Menurutnya, untuk mengukur tingkat representatif sebuah ruangan untuk isolasi, tergantung bagaimana cara penilaiannya.

Baginya, ruangan yang disiapkan itu memang bersifat darurat, mengingat Kabupaten Buleleng yang sangat luas sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan isolasi bagi para PMI dalam satu tempat. Walaupun demikian, tingkat kenyamanannya sudah ditingkatkan dengan membuatkan penyekat untuk masing-masing orang. Selain itu, pihak keluarga juga diijinkan untuk menjenguk dan membawakan sarana tambahan dan makanan, namun tetap menjaga jarak dan tidak boleh melakukan kontak.

“Saya mendapat informasi lewat face book tentang ketidak nyamanan adik-adik kita di ruang isolasi, tapi tentu ketidak nyamanan ini akan terbayar 14 hari kedepan. Dengan rasa kebersamaan kesehatan, dan keamanan kenyamanan, terbayar dengan senangnya berinteraksi kembali dengan masyarakat karena sudah mendapat predikat sehat,” ujarnya.

Menurut Agus Suradnyana, Pemerintah Kabupaten Buleleng akan memberikan jaminan bagi PMI jika mereka yang telah menjalankan isolasi di tempat yang disiapkan Pemerintah, akan dipulangkan kepada keluarganya dalam kondisi yang benar-benar sehat.

“Nanti setelah 14 hari, kita akan melakukan pemeriksaan swab bukan hanya rapid test, sehingga akurasinya terukur. Sehingga mereka kembali kekeluarga dengan hasil yang terukur bahwa yang bersangkutan tidak terjangkit masalah Covid-19,” tegasnya.

Sementara di Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, juga telah menyiapkan fasilitas wisata berupa villa milik warga setempat dijadikan tempat isolasi bagi PMI yang datang dari luar negeri. |RM|

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts